Jawa Pos Radar Lawu — Media sosial kembali diramaikan dengan unggahan yang menyoroti kasus pembunuhan keji yang melibatkan seorang ibu kandung sebagai otak pelaku. Meski peristiwa ini terjadi pada tahun 2019, kasus tersebut meledak lagi di jagat maya dan memicu gelombang komentar pedas dari warganet yang baru mengetahui fakta kelam di balik tragedi keluarga ini.
Korban dalam kasus ini adalah Carudin (32), warga Indramayu. Tubuhnya ditemukan tidak bernyawa di kawasan hutan lindung Gunung Kalong dengan luka mengerikan di sekujur tubuh. Awalnya masyarakat menduga kasus ini adalah tindak kriminal biasa, namun hasil penyelidikan polisi justru membuka fakta mengejutkan: pelaku utama pembunuhan adalah ibu kandung korban sendiri, berinisial DRH.
DRH diketahui menyewa lima orang pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa anaknya. Eksekusi dilakukan dengan cara dibacok dan dipukul menggunakan benda tumpul hingga tewas. Untuk aksi keji tersebut, para pelaku disebut menerima bayaran belasan hingga puluhan juta rupiah.
Motif yang menjadi latar belakang pembunuhan ini membuat publik semakin geram. Selain konflik warisan dan sikap kasar korban terhadap ibunya, DRH juga menyebut orientasi seksual Carudin yang dituduh menyukai sesama jenis sebagai salah satu pemicu kebenciannya. Alih-alih mencari penyelesaian yang manusiawi, sang ibu justru memilih jalan kriminal yang merenggut nyawa darah dagingnya sendiri.
Meski sudah diproses hukum dan pemberitaannya mereda beberapa tahun lalu, kasus ini mendadak kembali viral setelah potongan berita lama dan cuplikan kronologi kejadian beredar luas di TikTok, Instagram, dan platform X. Banyak warganet mengaku baru mengetahui tragedi ini, hingga muncul perdebatan panjang mengenai batas kewarasan seorang ibu yang rela merancang pembunuhan anak kandungnya.
Komentar publik mayoritas menggambarkan keterkejutan dan kemarahan. Tidak sedikit yang menilai orientasi seksual korban tidak pernah bisa dijadikan pembenaran atas tindakan pembunuhan, apalagi dilakukan oleh orang tua kandung.
Viralnya kembali kasus ini menunjukkan bahwa isu kekerasan dalam keluarga, intoleransi, dan stigma sosial terhadap orientasi seksual masih menjadi persoalan serius di masyarakat. Banyak pihak menilai tragedi ini sebagai gambaran kelam bagaimana tekanan sosial, konflik batin, dan kurangnya pemahaman hak asasi manusia dapat berubah menjadi aksi kriminal yang tak masuk akal.
Publik berharap kasus ini tidak sekadar menjadi sensasi berulang, tetapi menjadi peringatan bahwa perbedaan, seburuk apa pun dipandang oleh sebagian orang, tidak boleh berujung pada kekerasan, apalagi pembunuhan. (hamid-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid