
Mahiru, Aida, dan Seni Menyimpan Luka dengan Anggun
Oleh: Iffatun Nafisah *)
PADA halaman awal novel "Novel Bersampul Batik" ini, pembaca diajak memasuki sebuah ruang kegelisahan. Kenyataan dan gejolak emosi berjalin erat. Sosok Aida menyimpan dan menyembunyikan novel-novel karya Mahiru Khair dari suaminya Gus Haikal.
Hal ini menunjukkan di hadapan dunia, Aida tampak teguh menjaga keutuhan rumah tangga yang terpaksa dipilihnya. Namun, di balik keteguhan itu tersimpan sebuah ruang sunyi yang tak pernah benar-benar dapat dijangkau siapa pun (selain Mahiru).
Penulis novel ini, Mohammad Hairul, MPd, guru, pegiat literasi, yang juga mahasiswa S3 kajian sastra Unesa, ini menghadirkan Aida hidup di antara dua arus yang saling berlawanan.
Baca Juga: Jantung dan Stroke Kini Serang Usia 20-an, Dokter Ungkap Cara Simpel Mencegahnya Sejak Dini
Kesetiaan yang menanggung luka seperti langit menanggung hujan, dan di kedalaman jiwanya Mahiru masih bersemayam sebagai cahaya samar yang tak lagi dapat digenggam, tetapi juga tak mampu dipadamkan.
Mahiru Khair sosok “Lelaki Penenun Angin”, seorang ustaz yang menyimpan rasa cinta kepada santri bernama Aida.
Sosok lelaki tanpa banyak pilihan. Ia memilih jalan yang paling sunyi, yaitu melepaskan Aida. Keputusan itu bukan lahir dari ketiadaan cinta, melainkan dari keberanian untuk menaklukkan ego yang paling dalam.
Melepaskan Aida bukanlah sebuah kekalahan, namun memberikan ruang bagi Aida agar martabatnya sebagai perempuan tetap terjaga.
Bukankah ini adalah bentuk pengorbanan yang paling agung? Ketika seorang lelaki memahami bahwa perannya bukan semata menjadi pemenang yang akhirnya dipilih, melainkan menjadi pelindung yang sanggup menjaga, bahkan saat ia tak lagi memiliki hak untuk menggenggam.

