Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ditendang Malaikat

R
Penulis: Redaksi❯
Ilustrasi cerpen Ditendang Malaikat. (AI GENERATED)
Ilustrasi cerpen Ditendang Malaikat. (AI GENERATED)

Advertisement

Cerpen Ditendang Malaikat 

Oleh Cak Uki *)

Di ruang tamu, istri dan anak-anak dari Syukur masih larut dalam suasana tangis tak terbendung. Sani, sang istri, tampak lebih realistis menghadapi tubuh suaminya yang tidak lagi bergerak. Mengenakan mukena, sambil duduk bersimpuh, ia membaca Qur'an, Surat Yasin.

Advertisement

Beberapa keluarga yang lain juga melakukan hal sama, di ruang tamu berukuran sekitar 3×4 meter itu. Keluarga lain dan beberapa warga memilih duduk di teras rumah agar ruang tempat jenazah disemayamkan tidak sesak. Berapa yang lain berada di halaman rumah. Di masjid kampung, petugas, melalui pelantang suara mengumumkan berita duka. 

"Innaalillaahi wainnaa ilaihi rooji'uun. Malam ini, telah meninggal dunia, saudara kita, Bapak Syukur. Insya Allah, jenazah almarhum akan dikebumikan, besok pagi, sekitar pukul 8. Mohon kekompakannnya untuk semua warga."

Advertisement

Roh, mungkin lebih tepatnya jiwa yang dibersamai roh Syukur, masih menyadari dirinya terpisah dengan tubuh yang kini kaku. Si jiwa, penyimpanan memori atas semua perbuatan manusia di dunia dan roh adalah sambungan jalur dengan Sang Maha Hidup, juga menyaksikan istri dan anak-anaknya menangis.

Si jiwa merasa seperti naik, jauh ke satu tempat, namun suasananya masih seperti di Bumi.

Pada tempat baru itu, si jiwa merasakan seperti masih menempati tubuh Syukur. Lebih tepatnya, seperti mimpi. Satu sosok tinggi besar datang, dengan membawa gada besi. Meskipun tidak mampu melihat wajah sosok besar bercahaya itu, Syukur menyaksikan sosok yang menyeramkan. Jiwa Syukur merasakan, inilah sosok malaikat pemeriksa semua amal.

Sosok itu mulai beraksi. "Selama di dunia, kamu makan?"

Pertanyaan itu dijawab, "ya" oleh Syukur.

Advertisement
Editor : Nur Wachid
Sumber : jawa pos radar lawu

Artikel Terkait

Mahiru, Aida, dan Seni Menyimpan Luka dengan Anggun

Mahiru, Aida, dan Seni Menyimpan Luka dengan Anggun

Esai berjudul Mahiru, Aida, dan Seni Menyimpan Luka dengan Anggun, karya Iffatun Nafisah, pendidik, alumni PBSI FKIP Unej.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer