Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Jalan Sunyi Nanang Purwono Melestarikan Aksara Jawa: Kita Tidak Sedang Melawan Zaman, Yang Kita Lawan Adalah Lupa

AA Arsyadani • Selasa, 11 November 2025 | 00:54 WIB

 

 

 

Nanang Purwono merayakan Hari Pahlawan dengan melestarikan aksara Jawa sebagai identitas bangsa.
Nanang Purwono merayakan Hari Pahlawan dengan melestarikan aksara Jawa sebagai identitas bangsa.

“Ketika kamu tidak bisa menuliskan nama sendiri dalam aksara bangsamu, di situlah kamu mulai kehilangan dirimu.” 

Jawa Pos Radar Lawu - Aroma kopi memenuhi lobi Hotel Marriott Surabaya pada Kamis (6/11/2025).

Di tengah riuh langkah tamu dan suara koper beroda, duduk seorang pria berpenampilan sederhana.

Batik cokelat, celana hitam, sandal gunung yang tampaknya telah menempuh perjalanan panjang, serta tas selempang tua yang selalu menemaninya.

Dialah Nanang Purwono (58), sosok yang memilih jalan perjuangan yang senyap namun bermakna: menghidupkan kembali aksara Jawa sebagai identitas yang hidup di tengah masyarakat modern Indonesia.

Nanang bukan tipe pejuang yang berdiri di panggung atau berbicara lantang.

Namun sorot matanya memancarkan keyakinan bahwa kebanggaan terhadap identitas bangsa tidak selalu harus ditunjukkan dengan keramaian.

“Perjuangan itu tidak harus gaduh,” katanya tenang.

Baginya, Hari Pahlawan bukan hanya tentang mengenang kepahlawanan masa lalu, tetapi menjaga agar bangsa tidak tercerabut dari akarnya di tengah perubahan zaman yang cepat.

Ia melihat bahwa banyak bangsa runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena kehilangan jati dirinya.

Aksara Jawa, yang dulu menjadi media pikir, estetika, dan ekspresi masyarakat Jawa selama ratusan tahun, kini makin jauh dari keseharian.

Di sekolah diajarkan sekadarnya, di ruang publik nyaris tak terlihat.

Masyarakat memandangnya sebagai sesuatu yang rumit dan tidak relevan.

“Kita tidak sedang melawan zaman,” ujarnya. “Yang kita lawan adalah lupa.”

Nanang kerap membandingkan kondisi ini dengan negara-negara Asia yang masih memegang teguh aksara sebagai napas peradaban.

Jepang dengan Kanji, Korea dengan Hangul, Thailand dengan aksara Thai.

Semuanya menjadikan aksara sebagai simbol kemandirian kultur, bukan beban tradisi.

Ia teringat saat mahasiswa Thailand menuliskan nama mereka dalam aksara lokal tanpa ragu, tetapi mahasiswa Indonesia justru kikuk ketika diminta melakukan hal yang sama.

Pada 22 Desember 2023 Nanang mendirikan Puri Aksara Rajapatni bersama beberapa rekan.

Komunitas ini menjadi ruang belajar aksara Jawa yang hangat, tidak menggurui, dan ramah untuk pemula.

Nama Rajapatni dipilih sebagai penghormatan kepada Gayatri Rajapatni, sosok tenang di balik kejayaan Majapahit.

“Rajapatni itu simbol kebijaksanaan yang bekerja dalam diam,” jelas Nanang.

Kegiatan komunitas berkembang pesat: kelas membaca dan menulis, pendampingan sekolah dan lembaga, penyusunan materi visual, hingga kerja sama internasional.

Kolaborasi yang paling berkesan bagi Nanang adalah ketika seorang penulis Belanda meminta bukunya diterjemahkan ke aksara Jawa.

“Itu bukan sekadar penerjemahan,” katanya. “Itu pengakuan bahwa aksara kita punya tempat dalam percakapan dunia.”

Gerakan mereka mendapat angin baru ketika Pemerintah Kota Surabaya menerbitkan edaran penggunaan aksara Jawa di papan nama OPD, kecamatan, kelurahan, dan fasilitas publik pada 19 September 2023.

Kini, aksara Jawa hadir di 145 kelurahan dan 31 kecamatan, memperlihatkan kembali bentuk huruf yang lama hilang dari pandangan.

“Kalau sesuatu dilihat terus, ia akan kembali menjadi bagian dari identitas,” kata Nanang.

“Itu yang kita kejar: pembiasaan.”

Puri Aksara Rajapatni kini mengusulkan aksara Jawa masuk dalam Raperda Pemajuan Kebudayaan Surabaya.

Jika disahkan, Surabaya menjadi kota pertama yang menjadikan aksara sebagai objek kebudayaan yang harus dipajukan pemerintah—sebuah langkah yang berpotensi memicu gerakan nasional.

“Ini bukan romantisme masa lalu,” tegas Nanang.

“Ini kerja menjaga masa depan. Kalau identitas tidak dijaga, bangsa ini akan rapuh.”

“Dan bangsa yang rapuh dapat dikuasai tanpa harus dijajah.”

Menjelang sore, cahaya keemasan menembus kaca lobi, menghangatkan kursi dan lantai marmer. Nanang menatap ponselnya sambil menunggu temannya dari Belanda.

Ketika ditanya tentang makna Hari Pahlawan, ia tersenyum kecil.

“Pahlawan itu bukan hanya yang berjuang di medan perang,” katanya.

“Pahlawan adalah mereka yang menjaga bangsa agar tidak kehilangan dirinya.”

Mungkin nama Nanang tak tercatat dalam buku sejarah resmi.

Namun perjuangan sunyinya menjaga akar budaya membuat peradaban bisa berdiri tegak.

Seperti akar pohon yang tak terlihat, tetapi menopang seluruh kehidupan, di situlah Nanang Purwono menanam makna kepahlawanannya sendiri. (fin)

 

Editor : AA Arsyadani
#NANANG PURWONO #hari pahlawan #aksara jawa