Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Rahasia di Balik Tradisi Ekstrem Perempuan Suku Mursi: Mengapa Bibir Mereka Direnggangkan hingga 15 cm dan Jadi Lambang Kecantikan?

AA Arsyadani • Selasa, 30 September 2025 | 19:20 WIB
Tradisi pelat bibir suku Mursi: lambang kecantikan, keberanian, dan kebanggaan budaya yang bertahan di tengah modernisasi.
Tradisi pelat bibir suku Mursi: lambang kecantikan, keberanian, dan kebanggaan budaya yang bertahan di tengah modernisasi.

Jawa Pos Radar Lawu - Di Lembah Omo, Ethiopia Selatan, hidup sebuah komunitas yang dikenal dengan tradisi ekstrem dan unik: perempuan dari suku Mursi merenggangkan bibir bawah mereka untuk menampung pelat tanah liat berukuran besar.

Ritual ini bukan sekadar ornamen tubuh, melainkan simbol kecantikan, kekuatan, sekaligus harga diri yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi dimulai saat seorang gadis Mursi berusia 14 hingga 15 tahun.

Bibir bawahnya diiris, empat gigi bawah dicabut, lalu dimasukkan pelat kecil dari tanah liat.

Pelat tersebut secara bertahap diganti dengan ukuran yang lebih besar, hingga mencapai diameter 12–15 cm.

Menurut situs Timeless Ethiopia, pelat bibir menandai seorang perempuan telah dewasa dan siap menikah.

Bahkan, ukuran pelat bisa memengaruhi jumlah mahar berupa sapi yang diberikan calon mempelai pria.

“Pelat bibir adalah simbol kecantikan dan kelayakan untuk menikah dalam suku Mursi,” tulis Timeless Ethiopia dalam ulasannya.

Meski tampak ekstrem di mata dunia luar, bagi masyarakat Mursi pelat bibir justru menjadi lambang kecantikan dan status sosial.

Baca Juga: Mau Tau Tentang Manusia Purba di Indonesia?Museum Song Terus: Jejak Purbakala di Pacitan, Kota Seribu Goa

Tradisi ini diyakini juga sebagai ekspresi kebanggaan atas identitas budaya.

Asal-usulnya masih diperdebatkan. Beberapa teori menyebut bahwa pelat bibir dahulu dipakai untuk membuat perempuan terlihat tidak menarik di mata penjajah atau pemburu budak.

Meski teori itu telah dibantah, makna simbolisnya tetap kuat.

Situs School for Africa menegaskan,

“Tujuan utama pelat bibir adalah sebagai objek kecantikan, meskipun dalam beberapa catatan disebut juga sebagai cara untuk menghindari penangkapan oleh perampok.”

Selain pelat bibir, perempuan Mursi juga mengenakan pelat tanah liat di telinga dan melakukan skarifikasi pada perut serta lengan.

Skarifikasi ini berfungsi sebagai penanda status, asal-usul klan, dan simbol pernikahan.

Mereka biasanya mengenakan kulit kambing atau kain sederhana yang diikat di pinggul, dilengkapi perhiasan dari logam maupun tulang hewan.

Di tengah arus modernisasi dan tekanan dari pemerintah Ethiopia yang berupaya membatasi praktik pelat bibir, sebagian perempuan muda mulai enggan melanjutkan ritual ini.

Namun, keputusan tersebut kerap berdampak pada status sosial mereka di masyarakat.

Bagi perempuan Mursi, pelat bibir bukan hanya warisan, tetapi lambang keberanian, kecantikan, dan kebanggaan akan identitas diri.

Tradisi ini menjadi pengingat bahwa standar kecantikan tidak bersifat universal.

Keindahan bisa lahir dari rasa sakit, keteguhan, dan sejarah panjang sebuah komunitas yang bertahan menghadapi perubahan zaman. (fin)

Photo
Photo
Editor : AA Arsyadani
#Ethiophia #Suku Mursi #lembah omo