Jawa Pos Radar Lawu - Dalam budaya Jawa, ada sebuah nasihat unik namun bermakna:
"Yen mangan aja nyisa, mundhak kuthue mati."
Artinya, "Kalau makan jangan disisakan, nanti anak ayam bisa mati."
Meskipun terdengar seperti mitos atau dongeng lama, ungkapan ini menyimpan pesan mendalam tentang etika, empati, dan kesadaran akan pentingnya menghargai makanan.
Baca Juga: Gugon Tuhon: Jangan Makan Langsung dari Cobek, Nanti Acara Nikahanmu Bisa Kehujanan!
Menghargai Makanan = Menghormati Rezeki
Bagi masyarakat Jawa, makanan bukan hanya kebutuhan jasmani, tapi juga bentuk berkah dari Tuhan. Setiap butir nasi adalah hasil kerja keras petani, doa orang tua, dan anugerah alam.
Menyisakan makanan dianggap:
- Tidak sopan terhadap rezeki,
- Kurang ajar terhadap usaha orang lain,
- Tindakan mubazir yang seharusnya dihindari.
Simbol “anak ayam mati” di sini bukan literal, melainkan cara lembut menanamkan rasa empati sejak dini.
Anak-anak diajarkan untuk merasa bertanggung jawab atas setiap makanan yang diambil.
Nilai Moral di Balik Larangan Ini
Gugon tuhon ini tidak sekadar melarang, tapi juga mengajarkan:
- Bertanggung jawab atas porsi makan sendiri,
- Hidup hemat dan anti boros,
- Menumbuhkan rasa empati terhadap makhluk lain,
- Bersyukur atas apa yang sudah dimiliki.
Dengan bahasa sederhana, orang tua zaman dulu menanamkan nilai etos kerja, rasa syukur, dan kepedulian sosial pada generasi muda.
Semakin Relevan di Era Konsumtif
Di zaman sekarang, food waste jadi masalah global. Banyak orang memesan makanan berlebih hanya untuk dibuang. Padahal, masih banyak orang kelaparan di belahan dunia lain.
Budaya Jawa lewat falsafah seperti ini sebenarnya sudah lebih dulu mengajarkan prinsip sustainability.
Mengambil secukupnya, makan dengan penuh syukur, dan tidak menyisakan apa yang bisa dimakan. (fin)
Editor : AA Arsyadani