PONOROGO, Jawa Pos Radar Lawu - WOW… Itulah kata pertama yang muncul saat memasuki Rumah Baca Sutejo Spektrum Center (SSC).
Bagaimana tidak? Rumah bercat coklat itu menyuguhkan pemandangan luar biasa. Deretan rak-rak buku berjajar rapi memenuhi tembok ruangan berukuran 6x14 meter.
Puluhan ribu eksemplar buku fiksi maupun nonfiksi tampak memanjakan mata para penikmat buku.
Sebanyak 10 siswa kelas XI SMK Putra Indonesia Malang yang memasuki rumah baca itu tampak cukup terperangah.
Sambil meletakkan tas punggung di lantai, mereka mulai menyapukan pandangan pada buku-buku yang ada.
Perjalanan panjang selama lima jam membuat mereka memilih duduk di lantai sambil menyelonjorkan kaki.
Melalui kegiatan Literacy Camp selama tiga hari, 9-11 Desember 2024, para siswa diajak berkreasi dalam membuat cerpen melalui bimbingan Dr. Sutejo, M.Hum, pendiri Rumah Baca SSC.
Mereka dipilih sekolah untuk mengikuti pelatihan intensif agar kemampuannya lebih berkembang.
“Kami berharap mereka dapat lebih mengembangkan kemampuannya di bidang tulis-menulis, khususnya menulis cerpen. Tentu kalau dibimbing oleh orang yang tepat seperti Pak Tejo perkembangan mereka akan lebih optimal,” kata guru pendamping siswa, Diana Muhayanti di sela-sela kegiatan di Rumah Baca SSC, Senin (9/12).
Ia berpendapat, menulis bukan sekadar kegiatan menyampaikan ide. Menulis bisa menjadi ajang meluapkan emosi, menumpahkan keluh kesah, atau meredakan kemarahan.
“Dengan menulis, energi negatif akan tersalurkan lebih terarah, karena tidak perlu mencari pelampiasan yang merugikan orang lain,” tambah guru Bahasa Indonesia itu.
Salah satu peserta Literacy Camp, Keisha Dealova, siswa kelas XI, usai selesaikan cerpen berjudul "Jiwa yang Meminta Mati" Cerpen itu, katanya, diilhami curhatan temannya yang ingin bunuh diri.
Dia ingin mengungkapkan pendapatnya lewat cerita. "Cerpen itu bisa mengajak berenung ulang tentang kehidupan." Ucap perempuan berusia 17 tahun itu.
Terkait dengan kegiatan di SSC, siswi yang mengambil Kompetensi Keahlian Teknik Kimia Industri itu mengaku senang bisa berguru langsung ke ahlinya.
"Saya tidak membayangkan akan mengikuti Literacy Camp yang dibimbing langsung oleh ahli cerpen yaitu Bapak Sutejo. Saya sangat senang dan bangga karena mendapatkan pembelajaran langsung mengenai dunia sastra Indonesia. Saya kagum, rumah ini seperti perpustakaan pribadi yang memiliki banyak sekali koleksi buku. Saya berharap, suatu saat nanti, saya bisa mempunyai rumah seperti ini Pak Tejo."
Model pelatihan praktik langsung diharapkan dapat mempercepat penyerapan materi sekaligus menjadi katalisator dalam menulis cerpen. Sambil menulis, para siswa bisa berkonsultasi langsung dengan Sutejo maupun para pembimbing lain melalui pendampingan tutor sebaya. (*) (Diana Muhayanti/SSC Ponorogo)
Editor : Nur Wachid