Jawa Pos Radar Lawu - Tragedi longsor di tambang galian C Gunung Kuda, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, pada Jumat (30/5/2025) mengguncang Jawa Barat dan mengundang duka mendalam.
Tanah longsor ini merenggut 14 nyawa pekerja dan melukai empat lainnya, menimbulkan pertanyaan serius terkait keselamatan dan pengelolaan tambang.
Berikut rangkuman 5 fakta penting yang membuka tabir tragedi memilukan ini:
- Detik-detik Mencekam Longsor Terjadi saat Pengangkutan Material
Baca Juga: Berlibur ke Pantai Kondang Merak, Destinasi Wisata dengan Pasir Putih yang Menawan
Menurut kesaksian warga setempat, Kamal, longsor besar terjadi saat mobil truk dan alat berat sedang mengangkut material sirtu.
Sejumlah truk dan alat berat bahkan ikut tertimbun, menambah kompleksitas evakuasi.
Tim SAR segera dikerahkan sejak pagi untuk mengevakuasi korban yang terjebak.
- Korban Terkonfirmasi 14 Meninggal dan 4 Luka-luka, Evakuasi Masih Berlangsung
Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman, memastikan total 14 orang tewas dan 4 orang lainnya mengalami luka serius.
Pemerintah telah menetapkan status darurat bencana dan melakukan koordinasi intensif demi keselamatan petugas, mengingat risiko longsor susulan masih tinggi.
- Identifikasi 13 Jenazah Sudah Rampung, Menunggu Serah Terima ke Keluarga
Kapolsek Arjawinangun, Kompol Sumaeri, mengonfirmasi bahwa 13 jenazah korban sudah teridentifikasi. Proses pemulasaran masih berlangsung sebelum jenazah diserahkan ke keluarga.
Para korban berasal dari berbagai wilayah, menunjukkan besarnya dampak bencana ini bagi komunitas sekitar.
- DPRD Jawa Barat Desak Audit dan Penutupan Tambang Ilegal
Wakil Ketua DPRD Jabar, Ono Surono, menuntut evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas tambang di Cirebon.
Dimana, ia mendukung kebijakan moratorium izin tambang dari gubernur dan menegaskan bahwa tambang ilegal harus segera ditutup demi mencegah tragedi serupa sekaligus memperbaiki kerusakan lingkungan yang sudah terjadi.
- Aktivitas Tambang Dihentikan Sementara, Penutupan Permanen Jadi Pilihan
Kepala Dinas ESDM Jawa Barat, Bambang Tirtoyuliono, menyatakan bahwa metode penambangan yang tidak sesuai prosedur menjadi penyebab utama longsor.
Meski lokasi tambang sudah dipasangi garis polisi, aktivitas tetap berjalan sebelum akhirnya dihentikan sementara.
Pemerintah berencana menutup tambang ini secara permanen untuk keselamatan bersama.
Tragedi longsor di Tambang Galian C Gunung Kuda bukan hanya sebuah tragedi kemanusiaan, tapi juga alarm keras bagi pengelolaan tambang di Jawa Barat.
Dari detik-detik longsor hingga desakan audit tambang, seluruh fakta ini harus menjadi pijakan untuk perbaikan serius agar keselamatan pekerja dan kelestarian lingkungan terjamin. (okta)
Editor : Riana M.