Jawa Pos Radar Lawu - Jagat maya kembali dihebohkan oleh unggahan seorang pengguna media sosial yang memperlihatkan potensi manipulasi struk transfer bank BCA menggunakan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT.
Unggahan ini pertama kali muncul di Facebook dan segera ramai diperbincangkan di platform lain, termasuk X (dulu Twitter) dan Instagram.
Dalam unggahan viral tersebut, terlihat tangkapan layar struk transfer digital BCA dengan nominal Rp2.550.000 yang tampak autentik, lengkap dengan tulisan "Transfer Successful".
Baca Juga: Beda Hari, Beda Wangi! Ini Rekomendasi Parfum yang Cocok Dipakai Sesuai Hari
Namun, yang menjadi perhatian adalah keterangan tambahan dari pengunggah yang menyebutkan bahwa struk tersebut dapat dengan mudah dimanipulasi oleh AI.
“WOIIII... Mana bisa gitu!1!1!1!!!! Semakin update nanti bisa makin bahaya pula ini ChatGPT. Ini modelan struk yang dikasih WM aja oleh MyBCA aja masih bisa diubah sama AI (walaupun keliatan banget fakenya), apalagi modelan struk polos doang,” tulis akun X milik @RilArlh dalam unggahannya.
Unggahan ini sontak mendapat sorotan, memicu perdebatan dan kekhawatiran di kalangan netizen.
Banyak yang mengingatkan pentingnya memverifikasi bukti transfer melalui aplikasi perbankan resmi, alih-alih hanya mengandalkan tampilan struk transfer.
Netizen ramai memberikan tanggapan terhadap fenomena canggih ini.
Akun @auliatrpr di Instagram menulis, “Pentingnya m-banking biar bisa ngecek transferan tanpa ke ATM dulu.”
Bahkan, komentar ini menggambarkan pentingnya edukasi digital di era teknologi yang semakin maju.
Sementara itu, pihak bank menyarankan agar nasabah selalu mengecek transaksi melalui aplikasi mobile banking atau internet banking.
Langkah ini dianggap sebagai solusi paling aman untuk memastikan keabsahan transaksi.
Fenomena ini menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan yang semakin canggih.
AI kini tidak hanya dapat menghasilkan teks atau gambar, tetapi juga dokumen palsu yang menyerupai aslinya.
Meski hasil manipulasi ini mungkin terlihat kasar bagi pengguna yang jeli, namun bisa sangat meyakinkan bagi masyarakat awam.
“Cek dan ricek itu penting,” tegas seorang pengamat teknologi informasi dalam diskusi daring yang turut membahas kasus ini.
Tak hanya itu, ia juga menambahkan bahwa masyarakat perlu meningkatkan literasi digital untuk menghadapi ancaman seperti ini.
Untuk mengurangi risiko penipuan digital, berikut beberapa langkah yang dapat diambil:
- Gunakan Aplikasi Resmi: Selalu periksa transaksi menggunakan aplikasi mobile banking atau internet banking.
- Waspadai Bukti Transfer: Jangan mudah percaya dengan struk transfer, terutama jika terdapat kejanggalan.
- Tingkatkan Literasi Digital: Pelajari cara mengenali manipulasi dokumen digital.
- Laporkan Dugaan Penipuan: Jika menemukan indikasi penipuan, segera laporkan ke pihak berwenang atau bank terkait.
Pihak BCA sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait unggahan ini, namun kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam bertransaksi digital.
Dengan perkembangan teknologi yang pesat, keamanan data dan kewaspadaan menjadi kunci utama dalam menghindari penipuan. (okta)
Editor : Riana M.