Jawa Pos Radar Lawu - Nama Nessie Judge mendadak viral setelah salah satu video YouTube miliknya menampilkan foto Junko Furuta, korban kekerasan Jepang yang kontroversial.
Penggunaan foto itu kemudian memicu kecaman keras dari netizen Jepang dan perdebatan di media sosial Indonesia.
Kini Nessie Judge memberikan klarifikasi terkait tindakan tersebut dan video yang jadi sorotan publik.
Simak kronologi lengkap hingga tanggapan kreator dalam kasus ini.
Kronologi Kasus
Pada 6 November 2025, portal berita menyebut bahwa Nessie Judge menuai kecaman setelah menampilkan foto Junko Furuta sebagai bagian dari dekorasi dalam konten Halloween kolaborasi bersama grup K-Pop NCT DREAM di kanal YouTube Nessie Judge.
Foto Junko Furuta, yang merupakan korban penculikan dan pembunuhan brutal di Jepang pada tahun 1988-1989, dianggap sebagai elemen yang tidak pantas digunakan dalam konten hiburan.
Tanggapan netizen Jepang muncul secara intens, memicu perdebatan soal sensitivitas dan etika kreator konten dalam memanfaatkan tragedi nyata sebagai bagian dari video hiburan.
Klarifikasi dari Nessie Judge
Nessie Judge kemudian mengunggah permintaan maaf dan menyatakan telah menghapus video yang menjadi kontroversi.
Dalam klarifikasinya, ia menyebut bahwa foto tersebut dimaksudkan sebagai “homage” atau penghormatan dan bukan untuk hiburan semata.
“Kami dengan tulus meminta maaf kepada korban, keluarga korban, para penonton, dan semua pihak. Meski tidak ada niat untuk menyakiti siapa pun…”
“Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kurangnya pertimbangan kami.
Meskipun ini tentu saja tidak menghapus apa yang telah terjadi, ketahuilah bahwa kami belajar dari kesalahan kami dan berkomitmen untuk mengubah proses kami.”
Meskipun demikian, kritik dari netizen tetap muncul karena penggunaan gambar korban tragedi nyata dianggap melampaui batas etika konten digital.
Kasus ini menegaskan bahwa di era digital, kreativitas konten harus diimbangi dengan kepekaan terhadap konteks sejarah dan korban.
Bagi kreator seperti Nessie Judge, insiden ini adalah pengingat bahwa elemen visual dalam video tidak boleh mengabaikan nilai etika dan penghormatan terhadap korban nyata.
Publik kini menantikan bagaimana langkah selanjutnya dari kreator dan platform konten dalam menghadapi kritik tersebut. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid