Jawa Pos Radar Lawu - Kementerian Sosial (Kemensos) menyalurkan santunan kepada para korban insiden tragis robohnya atap Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jailani, di Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo.
Peristiwa ini menelan korban jiwa dan melukai belasan santriwati, memicu respons cepat dari pemerintah pusat dan daerah pada Sabtu, (1/11/2025) lalu.
Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos, Supomo, turun langsung ke lokasi kejadian dan rumah duka untuk menyerahkan santunan kematian kepada keluarga Putri Helmilia, santriwati kelas 1 SMP yang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan atap. Selain itu, santunan luka juga diberikan kepada 18 santriwati lain yang mengalami cedera ringan hingga berat.
Respons Cepat dan Dukungan Kemanusiaan
Dalam kunjungannya, Supomo menyampaikan bahwa santunan ini merupakan bentuk tanggung jawab negara terhadap warganya yang tertimpa musibah.
“Kami hadir untuk memastikan bahwa para korban mendapatkan haknya, baik dalam bentuk santunan maupun dukungan rehabilitasi sosial,” ujar Supomo di hadapan keluarga korban dan pengurus pesantren.
Kemensos juga melakukan asesmen menyeluruh terhadap kondisi fisik dan psikososial para santri yang terdampak. Tim Rehabilitasi Sosial akan mendampingi proses pemulihan, termasuk kemungkinan relokasi sementara dan pemulihan fasilitas belajar mengajar di pesantren tersebut.
Bantuan dari Pemerintah Daerah
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, turut memberikan bantuan operasional kepada keluarga korban. Ia mengunjungi dua santriwati yang dirawat di RSUD Besuki dan menyatakan bahwa pemerintah daerah akan menanggung seluruh biaya perawatan medis. Selain itu, bantuan uang tunai untuk kebutuhan sehari-hari juga disalurkan secara pribadi oleh Bupati.
“Ini bukan hanya soal bangunan yang ambruk, tapi tentang masa depan anak-anak kita yang sedang menuntut ilmu. Kami akan pastikan mereka tetap bisa belajar dengan aman,” tegas Yusuf Rio.
Kronologi Kejadian
Insiden terjadi pada dini hari, saat sebagian besar santriwati tengah beristirahat di asrama putri. Atap bangunan yang sudah menunjukkan tanda-tanda keretakan sejak beberapa bulan terakhir akhirnya runtuh, menimpa para penghuni.
Menurut pengurus pesantren, hujan deras dan angin kencang malam itu diduga memperparah kondisi struktur bangunan.
Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan segera dikerahkan untuk mengevakuasi korban dan membersihkan puing-puing.
Proses evakuasi berlangsung selama lebih dari lima jam, dengan prioritas pada penyelamatan korban yang terjebak di bawah reruntuhan.
Rehabilitasi dan Pemulihan
Kemensos berencana memberikan dukungan jangka panjang berupa program rehabilitasi sosial, termasuk konseling trauma, bantuan pendidikan, dan pemulihan fasilitas pesantren.
Supomo menyebutkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR dan pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan ulang asrama yang roboh.
“Pesantren adalah pusat pendidikan dan pembinaan karakter. Kami tidak ingin tragedi ini menghambat proses belajar para santri,” tambahnya.
Selain itu, Kemensos juga menyalurkan bantuan berupa sembako, perlengkapan tidur, dan kebutuhan dasar lainnya kepada para santri yang kini tinggal sementara di ruang musala dan rumah warga sekitar.
Dukungan Masyarakat dan Lembaga Sosial
Berbagai organisasi sosial dan komunitas lokal turut memberikan bantuan, baik dalam bentuk donasi maupun tenaga sukarela.
Lembaga Amil Zakat, komunitas santri alumni, dan tokoh masyarakat Situbondo menggelar doa bersama dan penggalangan dana untuk membantu proses pemulihan.
Kepala Desa Blimbing, Ahmad Fauzi, menyampaikan apresiasi atas solidaritas masyarakat. “Kami bersyukur atas perhatian semua pihak. Semoga ini menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: 5 Museum Paling Ikonik di Jakarta yang Wajib Dikunjungi untuk Pahami Sejarah Indonesia
Evaluasi dan Pencegahan
Pasca kejadian, Kemensos dan Pemkab Situbondo akan melakukan audit bangunan terhadap seluruh fasilitas pesantren di wilayah tersebut. Tujuannya adalah mencegah kejadian serupa di masa depan.
Pemerintah juga mendorong pesantren untuk lebih aktif melaporkan kondisi bangunan dan mengakses program bantuan renovasi dari pemerintah pusat.
“Keselamatan santri adalah prioritas. Kami akan pastikan semua pesantren memiliki fasilitas yang layak dan aman,” kata Supomo. (husnul-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid