Jawa Pos Radar Lawu - Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan duka mendalam atas musibah ambruknya atap ruang asrama putri di Pesantren Syekh Abdul Qodir Jailani, Situbondo, Jawa Timur.
Tragedi yang terjadi pada akhir Oktober ini menggugah perhatian publik dan pemerintah, terutama karena menyangkut keselamatan santri yang tengah menimba ilmu di lingkungan pesantren.
Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan di pesantren, Kemenag segera menyalurkan bantuan sebesar Rp200 juta untuk renovasi bangunan yang terdampak.
Bantuan tersebut dijadwalkan akan diserahkan langsung oleh Direktur Pesantren, Basnang Said, pada Kamis, 30 Oktober 2025.
“Kami sampaikan duka cita atas peristiwa ini. Semoga bantuan ini dapat mempercepat proses renovasi dan memastikan keamanan para santri,” ujar Dirjen Pendidikan Islam, Amien Suyitno, dalam keterangan tertulis.
Kronologi Kejadian
Peristiwa ambruknya atap terjadi secara tiba-tiba di salah satu ruang asrama putri. Menurut laporan awal, tidak ada korban jiwa, namun sejumlah santri mengalami luka ringan dan trauma psikologis.
Bangunan yang terdampak merupakan bagian dari kompleks Pesantren Salafiah Syafi'iyah Syekh Abdul Qodir Jailani, yang dikenal sebagai salah satu pesantren tradisional dengan jumlah santri cukup besar di wilayah Situbondo.
Tim dari Kemenag langsung melakukan koordinasi dengan pengurus pesantren dan pemerintah daerah untuk meninjau lokasi serta memastikan kebutuhan renovasi yang mendesak.
Berdasarkan hasil asesmen, struktur bangunan yang ambruk perlu diperbaiki total, termasuk penguatan fondasi dan sistem ventilasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Respons Pemerintah dan Tokoh Agama
Selain Kemenag, sejumlah tokoh agama dan organisasi keislaman turut menyampaikan keprihatinan. Wakil Ketua Umum PBNU, dalam pernyataannya, meminta pemerintah untuk memperhatikan kondisi fisik bangunan pesantren di seluruh Indonesia, terutama yang sudah berusia tua dan padat penghuni.
“Pesantren adalah benteng pendidikan moral bangsa. Pemerintah harus hadir, tidak hanya saat terjadi musibah, tetapi juga dalam upaya preventif,” tegasnya.
Kemenag juga menyatakan akan mengkaji ulang sistem monitoring bangunan pesantren, termasuk kemungkinan pembentukan tim audit infrastruktur pesantren secara nasional. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah potensi bahaya yang bisa mengancam keselamatan santri.
Rencana Renovasi dan Pengawasan
Bantuan Rp200 juta yang disalurkan akan digunakan untuk memperbaiki atap, memperkuat struktur bangunan, serta memperbarui fasilitas dasar seperti kamar mandi dan instalasi listrik.
Renovasi dijadwalkan berlangsung selama dua bulan, dengan pengawasan langsung dari tim teknis Kemenag dan pihak pesantren.
Direktur Pesantren, Basnang Said, menyampaikan bahwa pihaknya akan memastikan proses renovasi berjalan transparan dan sesuai standar keamanan.
Ia juga mengapresiasi respons cepat dari Kemenag dan dukungan masyarakat yang turut membantu secara swadaya.
“Kami tidak hanya membangun kembali fisik bangunan, tetapi juga membangun kembali rasa aman dan semangat belajar para santri,” ujar Basnang Said.
Dukungan Masyarakat dan Alumni
Pasca tragedi, sejumlah alumni pesantren dan warga sekitar turut menggalang dana tambahan untuk membantu proses renovasi.
Gerakan solidaritas ini menunjukkan betapa pesantren masih menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Situbondo.
Beberapa alumni yang kini menjadi tokoh publik bahkan menyatakan kesediaan untuk membantu dalam bentuk konsultasi teknis dan pendampingan psikologis bagi santri yang terdampak.
Baca Juga: Bansos KPM Dikebut! 7 Program Siap Disalurkan Awal Oktober 2025
Evaluasi Nasional: Infrastruktur Pesantren Butuh Perhatian Serius
Tragedi ini membuka kembali wacana nasional tentang pentingnya perbaikan infrastruktur pesantren. Menurut data Kemenag, ribuan pesantren di Indonesia masih menggunakan bangunan lama yang belum memenuhi standar konstruksi modern. Minimnya anggaran dan kurangnya pengawasan teknis menjadi tantangan utama.
Kemenag berkomitmen untuk memperkuat program revitalisasi pesantren, termasuk alokasi dana khusus untuk renovasi dan pembangunan baru.
Dirjen Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan bahwa tragedi di Situbondo harus menjadi momentum untuk mempercepat reformasi infrastruktur pendidikan keagamaan.
“Kami tidak ingin ada lagi santri yang belajar dalam kondisi bangunan yang membahayakan. Ini bukan hanya soal fisik, tapi soal masa depan generasi bangsa,” tutupnya. (husnul-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid