Jawa Pos Radar Lawu - Kasus memilukan terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Seorang balita berusia 3 tahun bernama Raya meninggal dunia dengan kondisi tubuh dipenuhi cacing.
Peristiwa ini menyita perhatian publik setelah video singkat berdurasi 9 detik memperlihatkan kondisinya beredar luas di Facebook dan WhatsApp.
Video tersebut berwatermark lembaga sosial Rumah Teduh, yang pertama kali mengungkap tragedi ini.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut angkat suara melalui akun Instagram pribadinya.
Ia menyampaikan rasa prihatin sekaligus kekecewaan mendalam atas meninggalnya Raya.
“Saya menyampaikan prihatin, rasa kecewa yang sangat dalam, serta permohonan maaf atas meninggalnya seorang balita berusia 3 tahun yang tubuhnya dipenuhi cacing,” ujar Dedi, dikutip Rabu (20/8).
Menurut keterangan medis, Raya menderita cacingan akut. Kondisi keluarganya yang rentan memperparah keadaannya.
Ibunya mengalami gangguan kejiwaan, ayahnya mengidap TBC, sedangkan Raya sehari-hari hanya dirawat oleh neneknya.
Sejak kecil, Raya terbiasa tinggal di kolong rumah bersama ayam dan kotoran.
Minimnya kebiasaan menjaga kebersihan, seperti mencuci tangan, membuat cacing dengan mudah masuk ke tubuhnya.
Dedi menilai tragedi ini sebagai potret nyata gagalnya pelayanan dasar desa. Ia menyoroti tidak berjalannya Posyandu, PKK, hingga fungsi kebidanan.
“Fungsi-fungsi pokok pergerakan PKK tidak berjalan, Posyandu tidak berjalan, dan fungsi kebidanan pun tidak berjalan,” tegasnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Dedi mengirim tim untuk menjemput keluarga Raya agar mendapat perawatan yang lebih layak.
Ia juga mengingatkan aparatur desa dan pemerintahan agar lebih peka terhadap kondisi warganya, bukan hanya sibuk ketika masalah sudah menjadi viral.
Plt Camat Kabandungan, Budi Andriana, membenarkan kasus tersebut.
Menurutnya, pihak kecamatan sebenarnya telah membantu keluarga Raya dengan pengurusan administrasi kependudukan hingga penerbitan Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Namun, ia mengakui pola asuh keluarga yang tidak optimal ikut memperburuk kondisi anak.
Sementara itu, Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, menjelaskan pihaknya sudah berupaya sejak lama, termasuk mengurus KTP, KK, dan dokumen kependudukan lain.
Sayangnya, ketidaksinkronan data NIK menjadi penghambat akses layanan kesehatan.
Di sisi lain, sikap orang tua Raya yang membingungkan juga membuat penanganan semakin sulit.
Bahkan, saat pemakaman, sang ayah sempat menghilang hingga larut malam.
Tragedi ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
Dedi Mulyadi menegaskan kembali pentingnya pelayanan kesehatan dasar di desa agar tidak hanya formalitas, tetapi benar-benar hadir untuk masyarakat.
“Ini perhatian bagi kita semua. Jangan hanya ribut ketika peristiwanya sudah terjadi,” pungkasnya. (fin)
Editor : AA Arsyadani