Jawa Pos Radar Lawu - Grebeg Suro 2025 di Ponorogo baru saja berakhir, namun euforia Festival Nasional Reog Ponorogo FNRP XXX masih terasa hangat.
Salah satu momen yang paling mencuri perhatian tahun ini adalah keterlibatan langsung 3 lokal yang turun ke panggung.
Bukan dalam kapasitas sebagai tamu kehormatan, melainkan benar-benar menjadi bagian dari tim pengrawit dan pengisi pertunjukan reog.
Rindi Safira
Nama Rindi Safira yang dikenal sebagai penyanyi dangdut asal Madiun, Jawa Timur, ikut meramaikan panggung.
Ia bergabung bersama grup Reog Krida Satria Tama dari Komisariat Padepokan PSHT Pusat Madiun.
Rindi tak hanya sekadar tampil di balik layar, ia benar-benar ikut dalam dinamika pertunjukan sebagai pengrawit.
Penampilannya makin spesial saat di akhir pementasan, Rindi membawakan lagu kebesaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Lagu tersebut dinyanyikan penuh penghayatan dan sukses menggugah semangat penonton yang memadati area Alun-Alun Ponorogo.
Arya Galih
Sosok berikutnya adalah Arya Galih, dalang dan penyanyi muda asal Magetan, Jawa Timur.
Ia ikut ambil bagian dalam pertunjukan Reog bersama Gembolo Sardhulo dari Bungkal, Ponorogo.
Dengan suaranya yang khas, Arya Galih mengisi tembang-tembang pengiring dalam alunan gamelan.
Kehadirannya memberi warna tersendiri dalam rangkaian musik pengiring Reog, terutama saat barongan dan jathilan beraksi di panggung.
Wisnu Jaya
Wisnu Jaya, yang namanya melambung berkat lagu “Pujaningsih” yang viral pada 2024, tampil dalam peran tak terduga di Festival Reog Nasional XXX tahun ini.
Penyanyi muda asal Ponorogo tersebut bergabung bersama tim Reog Brawijaya dari Universitas Brawijaya Malang, yang akhirnya keluar sebagai juara di ajang bergengsi ini.
Tak berhenti di situ, Wisnu juga memperkuat Gembolo Sardhulo Bungkal, satu grup dengan Arya Galih. Di sini, Wisnu tampil di balik gamelan, memainkan instrumen kenong.
Permainannya terlihat begitu total, dengan ekspresi yang serius dan penuh penghayatan.
Kehadirannya membuktikan bahwa partisipasinya di panggung Reog bukan sekadar tampil simbolis, melainkan sebagai bentuk nyata kecintaannya terhadap seni budaya Ponorogo.
Kehadiran ketiga artis lokal ini menjadi salah satu kejutan manis bagi penonton.
Mereka turun ke panggung bukan untuk tampil sebagai “bintang utama”, melainkan menyatu dalam harmoni pertunjukan Reog yang sarat nilai budaya.
Festival Reog Nasional sendiri memang menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Ponorogo sebagai rangkaian perayaan 1 Suro, penanda tahun baru dalam penanggalan Jawa.
Tahun ini, FRN XXX sekali lagi membuktikan diri sebagai magnet budaya, tak hanya bagi masyarakat Ponorogo, tapi juga bagi penikmat seni dari seluruh Indonesia. (kid)
Editor : Nur Wachid