Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Menangis Haru di Tanah Suci, Mbah Sumbuk, Jemaah 109 Tahun Itu Akhirnya Tunaikan Haji

AA Arsyadani • Rabu, 21 Mei 2025 | 22:39 WIB

 

Mbah Sumbuk, jemaah haji tertua Indonesia 2025 asal Kebumen, tiba di Jeddah dengan air mata haru dan rindu akan lemet kampung.
Mbah Sumbuk, jemaah haji tertua Indonesia 2025 asal Kebumen, tiba di Jeddah dengan air mata haru dan rindu akan lemet kampung.

Jawa Pos Radar Lawu — Air mata haru tumpah dari wajah renta itu.

Di atas kursi roda yang melaju perlahan menuju Terminal Haji Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Mbah Sumbuk, 109 tahun, mengucap syukur.

Alhamdulillah... Mbah tekan kéné…

Tak ada yang menyangka bahwa perempuan sepuh asal Kebumen, Jawa Tengah ini menjadi jemaah haji tertua Indonesia tahun 2025.

Usianya sudah lebih dari satu abad, namun semangatnya mengalahkan raga.

Ia tiba bersama anaknya yang kesepuluh, menggenggam tangan sang putra erat sepanjang perjalanan panjang dari tanah air.

Begitu menginjakkan roda kursinya di tanah suci, ia celingukan pelan, menatap setiap sudut terminal yang asing, namun terasa hangat.

Lalu, dengan suara lirih ia bertanya.

Ngendi lemeté, Le? Ana lemet ora neng kéné?

Lemet adalah makanan kampung dari singkong dan gula jawa.

Jajanan tradisional itulah yang dicari Mbah Sumbuk.  

Bukan kemewahan yang ia cari. Hanya rasa hangat dari kampung halaman yang menenangkan.

Para petugas pun tersenyum turut merasakan haru.

Menurut putranya, Sukmi (56), selama penerbangan yang menegangkan sepanjang sembilan jam, ibunya bahkan menolak makan.

Maka begitu mendarat, yang ia cari pertama kali bukan nasi Arab atau kurma, tapi... lemet.

Tak lama, datanglah Warijan.

Petugas dari Media Center Haji (MCH) yang juga berasal dari Kebumen.

Seketika wajah Mbah Sumbuk berseri, seolah bertemu keluarga sendiri.

Kowe wong Kebumen, Le?”

Inggih, Mbah. Nyong asli Kebumen,” jawab Warijan dengan senyum tulus.

Yo wis, melok nyong wae yo nang Makkah,” pinta Mbah Sumbuk sambil menggenggam erat tangannya.

Meski tak bisa menemani sampai Makkah, Warijan menenangkannya.

Tenang, Mbah. Mengko nang Makkah akeh kancane aku. Ana wong Kebumen. Mbah ora bakal kesepian.”

Di tengah suhu Jeddah yang membakar, Mbah Sumbuk meminta air.

Suaranya pelan tapi jelas,

Aku pan ngombe, Le…” Petugas segera sigap membantu.

Perjalanan menuju Makkah pun disiapkan dengan fasilitas khusus: bus dengan lift hidrolik agar ia tetap di kursi rodanya tanpa dipindahkan.

Mbah Sumbuk diperlakukan bak tamu agung, dijaga penuh hormat.

Sebagai pahlawan iman yang tengah melunasi janji spiritual seumur hidupnya.

Mbah Sumbuk bukan sekadar jemaah lansia.

Ia adalah lambang dari kekuatan tekad, kesabaran yang panjang, dan kerinduan mendalam kepada Allah SWT.

Di usia yang tak lagi muda, ia hadir membawa cinta yang utuh dan keikhlasan yang murni.

Semoga setiap langkahnya di Tanah Suci menjadi saksi abadi bahwa iman tak mengenal usia, dan kerinduan akan rumah-Nya selalu menemukan jalannya.

Meski untuk menunaikannya, ia harus menunggu satu abad lamanya. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#kisah haru calon haji #Mbah Sumbuk 109 Tahun #haji 2025 #jemaah haji indonesia #berita haji 2025