Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Cerita Ramadan: Kiai Asyari, Ulama Karismatik yang Mengislamkan Jin Kafir dan Mendirikan Pesantren di Hutan Angker

AA Arsyadani • Selasa, 11 Maret 2025 | 18:48 WIB
Ilustrasi cerita Ramadan Kiai Asyari mendirikan pesantren di hutan angker.
Ilustrasi cerita Ramadan Kiai Asyari mendirikan pesantren di hutan angker.

Jawa Pos Radar Lawu- Kisah hidup Kiai Asyari, ayah dari KH. Hasyim Asy’ari, penuh dengan keajaiban sehingga patut menambah khazanah cerita Ramadan.

Ia bukan hanya seorang ulama, tapi juga dikisahkan sebagai penakluk dunia gaib.

Dengan ilmu dan keteguhannya, ia berhasil menata Desa Keras, Jombang, yang dulunya terkenal angker.

Bahkan, banyak makhluk gaib yang akhirnya masuk Islam dan menjadi santrinya.

Kiai Asyari lahir di Salatiga, Jawa Tengah, dan berasal dari garis keturunan pejuang.

Ayahnya, Abdul Wahid, adalah komandan pasukan Pangeran Diponegoro.

Setelah menimba ilmu di Pondok Pesantren Nggedangan, Tambakberas, Jombang, Kiai Asy’ari menikahi Nyai Halimah, putri gurunya, Kiai Ustman.

Suatu hari, Kiai Ustman diminta tolong Kepala Desa Keras untuk mengatasi gangguan makhluk halus yang membuat warga resah.

Namun, karena saat itu beliau sedang sakit, Kiai Ustman mengutus menantunya, Kiai Asyari.

Tanpa ragu, Kiai Asyari berangkat ke Desa Keras bersama istrinya dan beberapa santri.

Apa yang mereka temui?

Sebuah hutan lebat yang dipenuhi dengan makhluk tak kasat mata yang sering mengganggu manusia.

Mengalahkan Penghuni Gaib dengan Ilmu dan Kesabaran

Setelah mendirikan padepokan di Desa Keras, Kiai Asyari mulai melakukan berbagai amalan dan doa untuk menghadapi makhluk-makhluk gaib di sana.

Satu per satu, mereka tunduk kepada Kiai Asyari.

Tak hanya itu, banyak di antara mereka yang akhirnya masuk Islam dan menjadi santri di pondok yang didirikannya.

Cerita tentang santri tak kasat mata ini menjadi legenda.

Para santri manusia yang membandel konon sering terbangun di tempat berbeda tanpa tahu bagaimana mereka dipindahkan.

Ada yang tertidur di kamarnya, lalu pagi harinya sudah berada di kamar mandi!

Keberhasilan Kiai Asyari juga didukung oleh istrinya, Nyai Halimah, yang dikenal sebagai Mbah Winih.

Ia menjalani ibadah puasa selama tiga tahun berturut-turut.

Tahun pertama untuk membersihkan diri dari dosa.

Tahun kedua untuk keselamatan keturunannya.

Tahun ketiga untuk para santri—termasuk yang tak kasat mata!

Dengan perjuangan mereka, Desa Keras yang dulunya terkenal angker berubah menjadi pusat keilmuan Islam yang dihormati.

Setelah berjuang menata Desa Keras dan membangun pesantren, Kiai Asyari wafat dan dimakamkan di desa tersebut bersama istrinya.

Hingga kini, makamnya menjadi tempat ziarah, sama seperti makam keturunannya, KH. Hasyim Asyari dan Gus Dur.

Kisah ini membuktikan bahwa perjuangan seorang ulama bukan hanya tentang mendidik manusia, tapi juga menundukkan dunia gaib demi menyebarkan Islam. (fin)

Editor : Andi Chorniawan
#pesantren #Kiai Asyari #jin kafir #hutan angker #cerita ramadan