Pernyataannya menandakan kemungkinan perubahan arah kebijakan Washington terhadap Kyiv di bawah kepemimpinannya.
"Sungguh gila apa yang terjadi. Ini gila. Saya sangat tidak setuju dengan peluncuran rudal-rudal hingga ratusan mil ke dalam wilayah Rusia," ujar Trump dalam wawancara eksklusif yang dilansir dari Reuters, Jumat (13/12/2024).
Trump mempertanyakan keputusan tersebut, menyebutnya sebagai langkah yang hanya memperburuk situasi.
"Mengapa kita melakukan itu? Kita hanya meningkatkan perang ini dan memperburuknya. Hal itu tidak seharusnya dibiarkan untuk dilakukan," tegasnya.
Komentar ini muncul di tengah keputusan Presiden Joe Biden bulan lalu yang mencabut larangan bagi Ukraina untuk menggunakan rudal jarak jauh buatan AS dalam serangan ke Rusia.
Langkah tersebut diambil setelah permohonan berulang kali dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Gedung Putih beralasan bahwa pengerahan 15.000 tentara Korea Utara ke medan perang oleh Rusia menjadi faktor utama di balik keputusan Biden.
Trump, yang akan dilantik kembali sebagai Presiden AS pada 20 Januari mendatang, menyatakan bahwa ia memiliki rencana yang sangat bagus untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tiga tahun.
Namun, ia menolak untuk membeberkan detailnya, mengatakan bahwa rencana tersebut akan kehilangan efektivitas jika diumumkan terlalu dini.
"Saya ingin mencapai kesepakatan, dan satu-satunya cara untuk mencapai kesepakatan adalah dengan tidak meninggalkan Ukraina," ungkap Trump.
Bahkan, ia juga menyebut masuknya pasukan Korea Utara ke dalam konflik sebagai "faktor yang sangat rumit."
Pekan lalu, Trump juga bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Paris dalam sebuah pertemuan yang juga dihadiri Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Usai pertemuan tersebut, Trump menyerukan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, sebagai langkah awal untuk meredakan ketegangan. (okta)
Editor : Riana M.