BOYOLALI, Jawa Pos Radar Lawu - Kabupaten Boyolali, yang selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil susu sapi terbesar di Indonesia, tengah menghadapi tantangan besar.
Produksi susu Boyolali mengalami penurunan drastis dalam tiga tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, produksi susu sapi di Boyolali pada 2021 mencapai 53.003.680 liter.
Kemudian turun menjadi 51.962.322,91 liter pada 2022, dan anjlok tajam ke angka 740.689 liter di 2023.
Penurunan produksi ini disinyalir disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk merebaknya penyakit pada ternak sapi.
Universitas Slamet Riyadi (Unisri) menyebutkan bahwa kondisi kesehatan sapi perah menjadi tantangan utama yang memengaruhi kapasitas produksi.
Laporan tersebut mendorong Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Unisri untuk melakukan pendampingan terhadap kelompok UMKM Serba Susu Boyolali.
Fenomena Viral: Aksi Buang Susu dan Mandi Susu Boyolali
Di tengah menurunnya produksi susu, publik dikejutkan dengan video viral aksi protes para peternak Boyolali yang membuang susu hingga mencapai 50 ton dan mandi susu sebagai bentuk kekecewaan.
Aksi tersebut merupakan respon terhadap rendahnya serapan susu oleh Industri Pengolahan Susu (IPS) yang terus menolak pasokan dengan berbagai alasan, seperti perawatan mesin dan peningkatan standar kualitas.
Salah satu peternak, Dono Nugroho, menyampaikan bahwa sudah berbulan-bulan susu mereka tidak terserap oleh industri, menyebabkan kerugian hingga ratusan juta rupiah.
“Kami terpaksa membuang susu karena tak bisa dijual, padahal biaya pakan dan perawatan sapi sangat tinggi,” ungkapnya.
Pemerintah Turun Tangan Viral Aksi Protes Mandi Susu dan 500 Liter Dibuang
Menyikapi kondisi ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Jawa Tengah telah melakukan inspeksi langsung dan berkonsultasi dengan Kementerian Pertanian.
Rapat koordinasi dengan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) bersama asosiasi IPS dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat untuk mencari solusi atas masalah pengurangan kuota serapan susu.
“Kami ingin mendapatkan penjelasan langsung dari pihak IPS mengenai alasan di balik pengurangan serapan susu, serta memastikan solusi yang dapat mencegah kerugian lebih lanjut bagi peternak lokal,” ujar Ignasius Hariyanta Nugraha, Plt Kepala Disnakkeswan Jateng.
Kejadian ini tidak hanya menyoroti tantangan yang dihadapi industri susu di Boyolali tetapi juga menggugah kepedulian pemerintah dan berbagai pihak untuk mendukung keberlanjutan sektor peternakan sapi Boyolali, yang menjadi penopang ekonomi bagi ribuan keluarga di wilayah tersebut. (kid)
Editor : Nur Wachid