BOYOLALI, Jawa Pos Radar Lawu – Boyolali, yang dikenal sebagai Kota Susu, tengah menghadapi tantangan besar dalam sektor industri susunya.
Penurunan produksi susu dan aksi protes peternak berupa mandi susu hingga membuang puluhan ton susu, mencuri perhatian publik.
Fakta-fakta ini menimbulkan pertanyaan, apa sebenarnya yang terjadi di balik fenomena ini?
Produksi Susu Boyolali Menurun Drastis Sejak 2022
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah menunjukkan bahwa produksi susu di Boyolali mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2021, produksi susu mencapai 53.003.680 liter, namun turun menjadi 51.962.322,91 liter di 2022.
Situasi memburuk di 2023 dengan produksi hanya mencapai 740.689 liter.
Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk penyakit pada ternak sapi yang berdampak pada produksi.
Meski demikian, Boyolali tetap menjadi salah satu penghasil susu terbesar di Jawa Tengah.
Untuk membantu mengatasi tantangan ini, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta melakukan pendampingan pada kelompok UMKM “Serba Susu Boyolali” yang diketuai oleh Sunarno di Desa Karangnongko, Kecamatan Mojosongo.
Baca Juga: Usai Perjanjian Strategis Indonesia-China, Kadin Siapkan 7 Langkah Pacu Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Aksi Protes Peternak: Mandi Susu dan Pembuangan Puluhan Ton Susu
Penurunan produksi dan masalah serapan industri pengolahan susu (IPS) mendorong ratusan peternak hingga peloper susu Boyolali untuk melakukan aksi protes.
Pada Sabtu (9/11/2024), mereka menggelar aksi dramatis dengan membagikan susu gratis, mandi susu, hingga membuang susu di Monumen Susu Tumpah Boyolali.
Dalam aksi tersebut, terlihat peloper membawa tangki besar berisi ribuan liter susu, sementara beberapa peternak mengguyurkan susu ke tubuh mereka sebagai simbol protes.
“Kami sudah membuang 33 ton susu karena ditolak oleh IPS dengan alasan perawatan mesin dan peningkatan standar kualitas,” ungkap Sugianto, salah satu peloper susu asal Musuk.
“Kami sangat berharap pemerintah menutup kran impor dan memprioritaskan susu lokal,” tambahnya.
Respons Pemerintah Aksi Protes Susu Boyolali
Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Jawa Tengah, Ignasius Hariyanta Nugraha, menyatakan bahwa pihaknya memahami keresahan para peternak.
“Kejadian ini tidak hanya di Boyolali, tetapi juga di wilayah lain. Kami telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Dirjen Peternakan untuk menanyakan alasan pengurangan serapan susu dari IPS,” jelas Hariyanta.
Pemerintah berencana mengadakan rapat koordinasi dengan mengundang asosiasi IPS untuk membahas permasalahan ini.
Upaya ini diharapkan dapat menjadi solusi agar susu lokal dapat terserap lebih optimal dan menjaga kelangsungan hidup para peternak penghasil susu Boyolali. (kid)
Editor : Nur Wachid