Tangis Sang Ibu hingga Aliran Uang Rp 225 Juta, Fakta Baru Kasus dr. Aulia Risma Lestari, Dugaan Bullying di PPDS Undip
Nur Wachid• Jumat, 20 September 2024 | 23:23 WIB
Fakta baru kasus dr. Aulia Risma Lestari, dugaan bullying PPDS Undip. (RADAR SEMARANG)
SEMARANG, Jawa Pos Radar Lawu – Tangis pilu pecah dari Nuzmatun Malinah, ibunda almarhum dr. Aulia Risma Lestari, yang ditemukan meninggal pada 12 Agustus 2024.
Dr. Aulia, seorang peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), diduga bunuh diri akibat tekanan berat yang dihadapinya selama menempuh pendidikan.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu (18/9/2024) malam, Nuzmatun menceritakan penderitaan anaknya yang diduga menjadi korban perundungan selama menjalani PPDS di RSUP Dr. Kariadi Semarang.
"Bantulah saya cari keadilan. Anak saya seharusnya ada, sekolah cari ilmu, tapi apa yang terjadi?" tangis Nuzmatun dalam konferensi tersebut.
1. Fakta Baru Aliran Uang Rp 225 Juta
Fakta baru yang mengejutkan adalah adanya aliran uang sebesar Rp 225 juta yang dikeluarkan dr. Aulia selama menjalani PPDS.
Menurut sang ibu, uang tersebut diduga sebagai iuran yang harus dibayar selama menjalani pendidikan spesialis.
Berdasarkan rekening koran yang diperiksa, sebagian besar uang tersebut telah disetorkan untuk kebutuhan seangkatan.
Namun, rincian pasti terkait penggunaan uang tersebut masih dalam penyelidikan oleh Polda Jateng.
"Terakhir, anak saya membayar pada Agustus meskipun nominalnya kecil. Sebelumnya, jumlah besar sudah disetor sejak semester awal," ungkap Nuzmatun.
2. Kelelahan dan Kecelakaan yang Dialami dr. Aulia
Selama menjalani PPDS, dr. Aulia kerap mengeluhkan tekanan fisik yang berat. Ia harus bangun dini hari dan mulai bekerja pada pukul 03.00 WIB.
Sementara pulang larut malam pada pukul 01.00 atau 01.30 WIB setiap harinya. Kondisi ini semakin parah setelah dr. Aulia mengalami kecelakaan sepeda motor pada Agustus 2022, yang menyebabkan cedera kaki dan punggung.
Meski dalam kondisi sakit, dr. Aulia tetap melanjutkan pendidikan, tetapi tekanan terus berlanjut.
Ia kerap dibentak dan diminta melakukan tugas-tugas berat, seperti membawa makanan dan minuman tanpa menggunakan troli meski dalam kondisi fisik yang lemah.
"Anak saya disuruh naik dari lantai satu ke lantai dua bawa barang tanpa troli, padahal kakinya sudah pincang," ujar Nuzmatun.
3. Tuntutan Keadilan dari Sang Ibu
Nuzmatun menuntut agar pelaku perundungan terhadap putrinya segera ditetapkan sebagai tersangka. Ia berharap keadilan ditegakkan seadil-adilnya.
Selain itu, Nuzmatun juga membantah rumor yang menyebut bahwa dr. Aulia terjerat pinjaman online untuk menutupi biaya pendidikannya. "Yang pinjol itu bohong. Kami masih punya uang," tegasnya.
4. Dugaan Bullying di PPDS Undip
Kasus dugaan perundungan di PPDS Undip semakin mendapat perhatian publik setelah berbagai bukti mulai terungkap.
Pihak RSUP Dr. Kariadi dan Universitas Diponegoro akhirnya mengakui adanya perundungan yang terjadi selama program pendidikan spesialis ini.
Bahkan, sejumlah mahasiswa dan pihak terkait telah diperiksa oleh Polda Jateng.
Hingga saat ini, 34 orang telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian terkait kasus ini.
Polda Jateng juga tengah menelusuri aliran uang sebesar Rp 225 juta dari rekening dr. Aulia kepada sejumlah penerima, yang diduga terkait dengan iuran selama program PPDS.
5. Dampak Psikologis pada Keluarga
Kehilangan dr. Aulia tak hanya meninggalkan duka mendalam bagi sang ibu, tetapi juga berdampak pada sang ayah.
Setiap hari, ayah dr. Aulia selalu menemani putrinya berangkat dan pulang kerja. "Papahnya selalu nungguin setiap dia pulang dan berangkat kerja," kenang Nuzmatun.
Setelah mendengar kabar bahwa dr. Aulia meninggal dunia, sang ayah jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia beberapa waktu setelah kejadian.
Nuzmatun kini menuntut keadilan penuh atas kematian putrinya dan berharap agar kasus ini bisa segera terungkap. "Saya menuntut keadilan yang seadil-adilnya," tegas Nuzmatun. (kid)