PONOROGO, Jawa Pos Radar Lawu - Perkutut masih menjadi salah satu primadona pecinta burung.
Kandang milik Ismail Gambir di Lingkungan Mayak, Kelurahan Tonatan, Ponorogo salah satunya, didatangi para pecinta burung saban harinya.
Mereka berburu indukan, burung jagoan untuk gantangan atau lomba maupun untuk pajangan di teras rumah. "Rata-rata laku tiga burung sehari," kata Ismail.
Suara khas burung perkutut menjadi daya tarik tersendiri.
Tidak heran jika burung asal Thailand itu menjadi buruan para kicau mania.
Bahkan, Ismail banjir orderan saat pandemi Covid-19 lalu. Ribuan ekor burung laku terjual dalam setahun.
Saat pandemi itu sebulan bisa laku 300 ekor.
"Kalau usaha yang lain lesu saat Covid-19, ternak perkutut malah jayanya," tambahnya.
Ismail mulai beternak perkutut 2017 lalu. Berawal dari iseng-iseng modal sepuluh pasang. Lambat laun beranak pinak dan laris dibeli.
Stok di kandangnya saat ini sekitar 300 ekor. Selalu bertambah seiring kegetolan Ismail trutusan ke berbagai daerah, bahkan hingga Surabaya demi mencari indukan.
"Kalau birdfarm itu harus jelas asal-usul indukannya, ada datanya sendiri. Kalau yang saya pelihara jenisnya bangkok asalnya dari negara Thailand," ujar pria 55 tahun itu.
Harga perkutut bervariasi, dari harga terendah Rp 150 ribu hingga Rp 3,5 juta.
Kondisi dan kualitas perkutut menjadi penentu harga. Apalagi jika sering memenangkan kontes, harga jual melambung.
"Ada tiga tipe, indukan, lomba dan ditaruh teras itu harganya beda-beda," ungkapnya.
Ismail mengaku perawatan perkutut susah-susah gampang.
Tak sekadar memenuhi pakan, perkutut butuh asupan vitamin tiap bulan.
Ismail juga rajin melatih perkutut agar pamornya naik.
"Kalau sakit harus masuk karantina dan diberi obat, pagi rajin dijemur, itu saja sebenarnya," ucapnya. (gen/kid)