Jawa Pos Radar Lawu - Tepuk tangan mungkin terlihat sederhana, tapi siapa sangka kalau gerakan ini menyimpan sejarah panjang ribuan tahun. Kita melakukannya saat merasa senang, takjub, atau ingin menunjukkan dukungan. Tapi, pernahkah kamu bertanya: sejak kapan manusia pertama kali melakukan tepuk tangan? Apakah ini naluri alami, atau hasil budaya?
Yuk, kita telusuri sejarahnya dari zaman purba hingga era digital sekarang!
Baca Juga: Biar Gak Batal di Tengah Jalan! Ini 9 Tips Bikin Festival Musik Sukses Datangkan Banyak Artis!
Tepuk Tangan Sudah Ada Sejak Zaman Primata?
Ternyata, bukan cuma manusia yang suka tepuk tangan. Primata seperti simpanse dan gorila juga sering menepukkan tangan untuk menarik perhatian, menunjukkan emosi, atau memberi sinyal ke kelompoknya. Hal ini bikin para ahli yakin bahwa tepuk tangan sudah ada sejak masa manusia purba, sebagai bentuk komunikasi spontan dan alami.
Catatan Awal Tepuk Tangan di Peradaban Kuno
Mesir Kuno (sekitar 2500 SM)
Lukisan dinding menunjukkan orang-orang dengan tangan terangkat saling menghadap. Diperkirakan, ini adalah bentuk awal tepuk tangan dalam ritual atau penyambutan.
Yunani Kuno (abad ke-5 SM)
Dalam pertunjukan teater besar di Athena, penonton menyatakan apresiasi dengan bertepuk tangan dan menghentakkan kaki. Di sinilah tepuk tangan mulai dikenal sebagai ekspresi hiburan.
Romawi Kuno
Tepuk tangan jadi bagian penting dalam dunia hiburan dan politik. Bahkan, Kaisar Romawi menyewa kelompok bernama "claque" penonton bayaran untuk memicu antusiasme penonton lainnya.
Uniknya, bangsa Romawi punya kode ekspresi:
-
Tepuk tangan biasa = Apresiasi
-
Jentik jari = Pujian elegan
-
Gelombang toga = Penghormatan tertinggi
Baca Juga: 9 Rekomendasi Tanaman Dalam Ruangan untuk Rumah Minimalis agar Lebih Menarik dan Estetik
Abad Pertengahan: Antara Ibadah dan Hiburan
Di masa ini, tepuk tangan dilarang dalam gereja karena dianggap tidak sopan. Tapi di luar tempat ibadah, tepuk tangan tetap jadi bagian penting dari upacara kerajaan, pertunjukan rakyat, hingga pesta bangsawan.
Abad ke-18–19: Etika Tepuk Tangan di Dunia Musik
Saat era klasik (Mozart, Beethoven), muncul aturan baru soal etika tepuk tangan:
-
Hanya diberikan setelah pertunjukan berakhir
-
Penonton yang terkesan memberi standing ovation
Etika ini masih berlaku di konser-konser musik klasik hingga sekarang.
Baca Juga: 5 Kiat Jitu Merawat Bunga Anggrek agar Mekar Maksimal di Rumah Anda
Tepuk Tangan di Era Modern: Dari Panggung ke Digital
Hari ini, tepuk tangan jadi ekspresi universal:
-
Di konser, seminar, panggung teater, hingga sekolah
-
Jadi bentuk dukungan dan solidaritas, bahkan dalam aksi damai
-
Digantikan emoji di dunia digital
Tepuk tangan punya kekuatan yang gak bisa diremehkan: serentak, mudah, dan bikin suasana jadi hidup. Ia menyatukan perasaan orang banyak dalam satu suara dan membangun koneksi sosial yang kuat. (fin)
Editor : AA Arsyadani