Jawa Pos Radar Lawu – Manga One Piece bukan hanya tentang petualangan, pertempuran epik, dan perburuan harta karun legendaris.
Serial manga karya Eiichiro Oda ini juga dipenuhi dengan kisah mengharukan yang membekas di hati para penggemarnya.
Dari perpisahan yang menyakitkan hingga kisah hidup penuh penderitaan, inilah 5 momen tersedih di manga One Piece yang tak mudah dilupakan.
1. Kematian Tragis Portgas D Ace
Perang Marineford menjadi titik balik emosional dalam cerita manga One Piece.
Setelah perjuangan panjang membebaskan Ace, harapan sempat muncul ketika borgolnya dilepas.
Namun semuanya sirna ketika Akainu menyerang Luffy, dan Ace melindungi sang adik dengan tubuhnya sendiri.
Di detik-detik terakhirnya, Ace menyampaikan rasa terima kasih karena telah dicintai.
Jeritan Luffy yang kehilangan kakaknya menjadi adegan paling memilukan di sepanjang seri.
2. Brook dan Kesendirian Abadi
Brook adalah karakter ceria, namun masa lalunya penuh duka.
Dia pernah menjadi bagian dari Bajak Laut Rumbar yang akhirnya tewas satu per satu karena penyakit dan serangan musuh.
Brook, yang kala itu sudah memakan Yomi Yomi no Mi, terjebak dalam kesepian di kapal hantu selama puluhan tahun.
Lagu Binks no Sake yang dinyanyikan kru sebagai lagu terakhir menjadi salah satu momen paling menguras emosi.
Janji kepada Laboon yang ditinggalkan di Grand Line, menambah kesedihan kisah Brook yang menanti kesempatan untuk menepati janjinya.
3. Perpisahan Sanji dan Zeff
Sebelum bergabung dengan Luffy, Sanji bekerja di restoran Baratie bersama Zeff, yang ia anggap sebagai sosok ayah.
Di balik kerasnya Zeff kepada Sanji, tersimpan kasih sayang yang mendalam, hingga membuat perpisahan keduanya dipenuhi emosi.
Sanji, yang biasanya dingin, berlutut dan menangis mengucapkan terima kasih.
Zeff, meski tegar, hanya bisa terdiam sambil menahan air mata.
Momen ini semakin menyentuh karena latar belakang keduanya—Zeff pernah rela mengorbankan satu kakinya demi menyelamatkan Sanji.
Sebelum akhirnya mereka terdampar di pulau tak berpenghuni dan kelaparan berbulan-bulan.
4. Luka Mendalam Masa Kecil Nico Robin
Robin dikenal tenang dan cerdas, tapi masa lalunya menyimpan kisah pilu.
Dia adalah satu-satunya penyintas tragedi Ohara, dan sejak kecil dicap sebagai musuh dunia.
Flashback tentang pertemuan Robin dan Saul di Elbaph kembali menegaskan betapa pahitnya hidup Robin kecil.
Dia bertahan hidup di tengah diskriminasi, kelaparan, dan kesendirian.
Dalam cerita manga One Piece, tidak jarang Robin berpikir mengakhiri hidup.
Namun akhirnya ia menemukan rumah barunya bersama Bajak Laut Topi Jerami, yang menerimanya tanpa syarat.
5. Banjir Air Mata Kepergian Going Merry
Meskipun Thousand Sunny kini jadi kapal andalan Bajak Laut Topi Jerami, Going Merry tetap menjadi simbol kebersamaan dan awal perjuangan kru.
Saat kapal itu rusak parah dan tidak bisa berlayar lagi, kru pun terpaksa merelakannya.
Prosesi pembakaran Going Merry menjadi salah satu adegan paling emosional.
Kapal itu seolah berbicara, mengucapkan salam perpisahan kepada kru yang telah menemaninya.
Air mata Luffy dan kawan-kawan menjadi bukti betapa dalam ikatan mereka dengan kapal pertama tersebut.
One Piece memang dikenal sebagai anime petualangan, tapi justru momen-momen emosional seperti ini yang membuat ceritanya begitu kuat dan tak terlupakan.
Kisah kehilangan, pengorbanan, dan pencarian makna keluarga menjadi bagian yang membuat para penggemar tetap setia mengikuti perjalanan Topi Jerami.
Ikuti terus Radar Lawu untuk memperoleh informasi menarik seputar manga One Piece! (cor)
Editor : Mizan Ahsani