Jawa Pos Radar Lawu - Drama Korea When Life Gives You Tangerines menarik perhatian tidak hanya karena jalan ceritanya, tetapi juga karena judulnya yang unik.
Judul ini mengingatkan banyak orang pada ungkapan bahasa Inggris yang populer, “When life gives you lemons, make lemonade.”
Namun, mengapa yang digunakan dalam judul drama ini justru tangerines atau jeruk mandarin, bukan lemons (lemon)?
Makna Ungkapan “When Life Gives You Lemons”
Ungkapan “When life gives you lemons, make lemonade” berarti bahwa ketika hidup memberimu kesulitan atau tantangan, kamu harus mengubahnya menjadi sesuatu yang positif.
Lemon dalam ungkapan ini melambangkan sesuatu yang asam atau tidak menyenangkan, tetapi dengan usaha dan kreativitas, bisa diubah menjadi sesuatu yang manis seperti limun (lemonade).
Kenapa Tangerines dalam Judul Drama Ini?
Sementara lemon sering diasosiasikan dengan tantangan dan kesulitan, jeruk mandarin (tangerines) lebih identik dengan sesuatu yang manis dan penuh makna dalam budaya Korea, terutama di Pulau Jeju, yang menjadi latar utama drama ini.
Tangerine di Pulau Jeju adalah simbol dari:
• Keberlimpahan dan kerja keras – Banyak penduduk Jeju hidup dari hasil kebun tangerine, yang membutuhkan usaha keras untuk dipanen dan dijual.
• Harapan dan keberuntungan – Dalam budaya Korea, jeruk sering dikaitkan dengan keberuntungan dan kesejahteraan.
• Kehidupan sederhana namun bermakna – Tidak seperti lemon yang sering dianggap sebagai metafora kesulitan, tangerine lebih menggambarkan perjalanan hidup yang penuh kerja keras, harapan, dan kenyataan pahit-manis yang harus diterima.
Dalam drama ini, karakter utama Oh Ae Sun (diperankan oleh IU) mengalami berbagai tantangan dalam hidupnya.
Sebagai anak perempuan pertama, ia penuh ambisi untuk keluar dari kehidupan sulitnya di Pulau Jeju. Namun, ia juga harus menghadapi realitas bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Perbedaan dan Kesamaan dengan “When Life Gives You Lemons”
Jika ungkapan “When life gives you lemons, make lemonade” berarti mengubah hal buruk menjadi sesuatu yang baik, maka “When Life Gives You Tangerines” bisa diartikan sebagai menerima hidup apa adanya—dengan segala manis dan asamnya—dan tetap menjalani kehidupan dengan penuh makna.
Drama ini menunjukkan bahwa hidup tidak selalu memberi kita pilihan yang kita inginkan.
Tetapi justru dari situlah kita belajar menerima dan menemukan kebahagiaan dalam apa yang sudah ada.
Judul When Life Gives You Tangerines bukan sekadar permainan kata dari ungkapan populer, tetapi juga mencerminkan filosofi kehidupan yang lebih dalam.
Drama ini menggambarkan bahwa kehidupan di Pulau Jeju, seperti halnya jeruk mandarin, memiliki sisi manis dan pahit yang harus dijalani dengan kesabaran dan keikhlasan.
Dengan pendekatan yang lebih kultural dan emosional, drama ini menawarkan perspektif berbeda dari sekadar “membuat limun dari lemon”.
Melainkan tentang bagaimana kita bisa menghargai apa yang sudah kita miliki, bahkan jika itu tidak selalu sesuai harapan kita. (*)
Editor : Riana M.