Jawa Pos Radar Lawu – Kalau zaman dahulu kesuksesan sering kali diukur dari seberapa keras seseorang bekerja, maka ini bisa jadi tidak berlaku di zaman sekarang.
Generasi sebelumnya percaya bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja, semakin besar peluang untuk meraih kesuksesan.
Namun, generasi Z tampaknya mulai menyangkal pandangan ini. Mereka tidak lagi terjebak dalam budaya kerja yang mengagungkan lembur dan minim istirahat.
Sebaliknya, mereka lebih fokus pada pengembangan soft skills yang dianggap lebih berharga untuk masa depan.
Tren ini terlihat jelas dari banyaknya Gen Z yang mencari pekerjaan dengan keseimbangan hidup yang lebih baik.
Mereka lebih memilih untuk mengasah keterampilan seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kreativitas, daripada hanya mengandalkan jam kerja yang panjang.
Kesadaran akan pentingnya kecerdasan emosional dan kemampuan beradaptasi dalam dunia kerja yang terus berubah semakin menguat.
Mengapa Skill Lebih Penting daripada Kerja Lembur?
Pergeseran pola pikir ini muncul salah satunya karena budaya dunia kerja dunia kerja yang kini semakin kompetitif dan dinamis.
Perusahaan tidak hanya mencari karyawan yang mampu bekerja keras, tetapi juga yang memiliki keterampilan interpersonal yang baik.
Soft skills seperti berpikir kritis, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, dan kerja tim kini menjadi aset yang lebih berharga dibandingkan sekadar jam kerja yang panjang.
Tren ini juga terlihat dari meningkatnya minat Gen Z terhadap kursus pengembangan diri.
Banyak dari mereka yang bersedia menginvestasikan waktu dan uang untuk mengikuti kelas public speaking, emotional intelligence, dan digital marketing.
Bagaimana Cara Gen Z Mengembangkan Diri Tanpa Burnout?
Lalu, bagaimana Gen Z mengasah soft skills tanpa terjebak dalam tekanan untuk terus bekerja?
Berikut beberapa strategi yang mereka terapkan:
- Memilih pekerjaan yang sesuai dengan passion dan nilai hidup
Gen Z tidak hanya mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, tetapi juga ingin bekerja di tempat yang sejalan dengan minat dan nilai-nilai mereka. - Fokus pada pertumbuhan pribadi, bukan sekadar jabatan
Alih-alih mengejar promosi dengan bekerja tanpa henti, Gen Z lebih memilih untuk terus belajar. Mereka aktif mengikuti workshop, membaca buku, dan terlibat dalam komunitas yang dapat meningkatkan keterampilan mereka. - Menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi
Gen Z lebih menyadari pentingnya kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak ragu untuk mengambil cuti, melakukan self-care, dan menetapkan batasan kerja yang jelas untuk menghindari burnout.
- Mengoptimalkan teknologi untuk efisiensi kerja
Dengan kemajuan teknologi, Gen Z memanfaatkan berbagai alat digital untuk bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras.
Mereka menggunakan aplikasi manajemen waktu, alat kolaborasi online, dan otomatisasi untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efektif. (*)
Editor : Riana M.