Jawa Pos Radar Lawu - Belakangan ini, istilah "eggshell parenting" atau pola asuh "cangkang telur" menjadi topik hangat di kalangan orang tua dan ahli psikologi.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan pola asuh Eggshell Parenting ini? Mari kita simak lebih dalam.
Eggshell parenting menggambarkan cara pengasuhan di mana anak-anak tumbuh dalam suasana yang rapuh, penuh ketidakpastian, dan sering kali diselimuti rasa takut.
Pola asuh ini bisa berdampak serius pada kesehatan mental anak, mulai dari kecemasan hingga gangguan harga diri.
Apa Itu Eggshell Parenting?
Menurut Dr. Jerimya Fox, seorang konselor profesional di Banner Health, eggshell parenting adalah gaya pengasuhan di mana orang tua bersikap tidak konsisten dan cenderung bereaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil.
"Di rumah yang menerapkan pola ini, anak merasa harus selalu berhati-hati agar tidak memicu kemarahan orang tua," jelas Dr. Fox.
Ia menambahkan, "Satu saat orang tua bisa sangat peduli, tetapi di lain waktu bisa marah tanpa alasan yang jelas.
Ini menciptakan ketidakstabilan yang membingungkan bagi anak."
Tanda-Tanda Eggshell Parenting
Ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan bahwa seorang orang tua mungkin menerapkan eggshell parenting, antara lain:
1. Hiperreaktif: Orang tua terlalu bereaksi berlebihan terhadap masalah kecil.
2. Ketidakkonsistenan: Pola asuh ini memungkinkan orang tua membuat seperangkat aturan dan harapan yang sering berubah, sehingga membuat anak bingung.
3. Harapan yang Tidak Realistis: Orang tua kerap menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk anak.
4. Kurangnya Komunikasi: Komunikasi antara anak dan orang tua yang buruk menjadi tanda bahwa Orang Tua menerapkan eggshell parenting ini.
Anak merasa ragu untuk berbagi karena takut reaksi orang tua.
5. Terlalu Banyak Mengkritik: Alih-alih fokus pada kelebihannya, orang tua justru mengungkit-ungkit kekurangan anak tanpa mengakui sisi lain sang anak.
Pola asuh ini bukan hanya tentang ledakan emosi sesekali, tetapi lebih kepada pola berulang yang merusak kemampuan anak untuk menghadapi situasi sulit.
Dampak Eggshell Parenting pada Anak
Dampak dari eggshell parenting bisa sangat merugikan, antara lain
- Ketegangan Emosional: Anak menjadi sangat waspada dan takut membuat kesalahan.
- Harga Diri Rendah: Ketidakkonsistenan dalam pola asuh dapat merusak rasa percaya diri anak.
- Masalah Fisik: Ketegangan emosional bisa menyebabkan sakit kepala, gangguan tidur, dan masalah pencernaan.
- Kesulitan Mengelola Emosi: Anak mungkin bingung dalam merespons perasaan mereka.
Contoh Kasus Eggshell Parenting
Dalam kehidupan sehari-hari, eggshell parenting bisa terlihat jelas.
Misalnya, seorang anak merasa tidak nyaman untuk berbagi perasaannya dengan orang tuanya dan sering memilih untuk menyimpan semuanya sendiri.
Setiap kali mencoba untuk berbicara tentang masalah di sekolah atau perasaannya, orang tuanya sering bereaksi dengan kemarahan atau skeptisisme.
Akibatnya, anak tersebut merasa terasing dan kesepian, karena takut bahwa jika berbicara, orang tuanya akan marah atau tidak mengerti.
Ketidakpastian ini membuatnya semakin enggan untuk membuka diri.
Cara Mengatasi Eggshell Parenting
Mengasuh anak adalah tentang menemukan keseimbangan antara memberikan bimbingan dan menumbuhkan kemandirian.
Berikut beberapa langkah yang bisa membantu orang tua menghindari eggshell parenting:
1. Bersikap Konsisten dengan menerapkan aturan dan harapan yang jelas.
2. Fokus pada Komunikasi: Dorong anak untuk berbicara dan ekspresikan rasa sayang tanpa reaksi berlebihan.
3. Berikan Ruang untuk Kesalahan: Biarkan anak belajar dari pengalaman mereka sendiri.
4. Kontrol Emosi: Kelola emosi sebelum merespons situasi tertentu. (*)
Editor : Riana M.