Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Putus Budaya Fatherless, Okky Madasari Ajak Gen Z Peduli Kesehatan Mental, Gerakan Menulis Nasional untuk Menyembuhkan

Nur Wachid • Senin, 9 Desember 2024 | 23:21 WIB
Okky Madasari berbagi dalam gerakan nasional menulis untuk menyembuhkan yang diinisiasi oleh Yayasan Nalar Naluri Nurani bekerja sama dengan Sutejo Spectrum Center dan OM Institute.
Okky Madasari berbagi dalam gerakan nasional menulis untuk menyembuhkan yang diinisiasi oleh Yayasan Nalar Naluri Nurani bekerja sama dengan Sutejo Spectrum Center dan OM Institute.

Jawa Pos Radar Lawu - Antara patriarki atau matriarki, mana yang lebih baik digunakan dalam struktur masyarakat kita? Amran, seorang mahasiswa generasi Z bertanya pada Okky Madasari.

Pertanyaan ini menyeruak dalam pembahasan kepedulian pada kaum perempuan yang kerap mendapatkan perlakuan tidak baik.

“Budaya yang menjunjung equality, maka dari itulah modal utamanya adalah menumbuhkan literasi kritis di tengah masyarakat kita,” ungkap Okky Madasari.

Berawal dari pertanyaan Amran ini, Okky memaparkan fenomena yang terjadi pada kaum perempuan hari ini.

Jawaban “terserah” yang sering keluar dari mulut perempuan, bagi Okky merupakan produk dari budaya patriarki.

“Sejak kecil, seorang perempuan tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Jangankan memilih, mereka pun tidak diberi kesempatan untuk berbicara, menyuarakan pendapatnya,”jelas Okky.

Pembahasan menarik ini terjadi di Sutejo Spektrum Center (5/12/2024). Sebanyak 73 peserta dari berbagai kalangan berkumpul. Mereka antusias membicarakan tema anti kekerasan pada perempuan.

Acara ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional menulis untuk menyembuhkan yang diinisiasi oleh Yayasan Nalar Naluri Nurani bekerja sama dengan Sutejo Spectrum Center dan OM Institute.

Writing is healing, writing is protectingmenjadi tema yang diangkat. Peserta diajak untuk membicarakan pentingnya kepedulian akan kesehatan mental.

Terutama pada kaum perempuan. Mental yang tidak sehat terbukti menjadi sebab berbagai berita negatif yang terjadi pada generasi muda kita. Yang paling menyedihkan berujung pada bunuh diri.

Urgensi kepedulian kesehatan mental pada kaum muda diungkap Didik Supriyanto, perwakilan dari Yayasan Nalar Naluri Nurani, pada sambutannya.

Sementara Sutejo, budayawan, mengungkapkan kerentanan yang terjadi pada generasi Z kita merupakan akibat dari over thinking yang tidak perlu.

Pengaruh negatif media digital menjadi sorotan utamanya. Oleh sebab itulah, bagi Sutejo obat dari fenomena ini adalah pembudayaan literasi.

Pendapat senada diungkapkan oleh Okky Madasari. Lulusan National University of Singapore ini mengatakan bahwa kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan generasi Z.

Mentalitas generasi Z terbentuk akibat faktor lingkungannya. Terutama lingkungan digital.

Pada kesempatan ini, Okky mengajak peserta untuk menuliskan surat pada diri sendiri atau siapapun.

Selama sepuluh menit, peserta hanyut menyelami beragam kisah yang terjadi dalam hidup mereka. Terdengar isak tangis di antara instrumen musik yang mengalun.

Banyak peserta antusias membacakan kisah yang ditulisnya. Di antaranya Avita, mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo ini mengaku kehilangan sosok ayah sejak kecil.

Avita tumbuh tanpa didampingi ayah dan menjadikan menulis sebagai obat untuk menerapi dirinya.

Kisah Avita merupakan satu dari banyak anak dan remaja yang dipaksa tumbuh tanpa sosok ayah. Okky menyebutnya fatherless. Fenomena ketidakhadiran ayah pada pengasuhan anak bagi Okky harus segera diakhiri.

“Inilah saatnya kita memutus rantai pola pengasuhan yang fatherless. Pertama, kita harus sembuh terlebih dahulu dari berbagai luka dan trauma yang terjadi. Kedua, barulah kita memutus rantai. Nah setelah itu, saya berharap teman-teman yang di sini bisa menjadi agen yang menyuarakan pentingnya kepedulian akan kesehatan mental.” jelas Okky.

Illiyyin, psikolog, yang hadir dalam acara ini memberikan beberapa tips untuk menenangkan diri ketika trauma di masa lalu tiba-tiba muncul. Metode pernapasan 4-7-8 dianggap sebagai salah satu solusinya.

Baca Juga: Tak Jago Masak Bukan Alasan Bagi Rila Sofia Tidak Membuka Usaha Penyetan

“Teman-teman bisa menarik napas melalui hidung selama 4 detik, menahannya 7 detik, lalu mengembuskan perlahan selama 8 detik lewat mulut,” jelas Illiyyin sambil mempraktikkan.

Acara writing is healing, writing is protecting merupakan program tour antar kota yang digagas Yayasan Nalar Naluri Nurani.

Bersama OM Institute, mereka menyambangi 4 kota pada edisi kali ini. Selain Ponorogo, ada Yogyakarta, Purwokerto, dan Bogor.

“Tahun ini 4 kota dulu, semoga tahun depat bisa meluas lebih banyak lagi,” pungkas Didik Supriyanto di akhir acara. (SSC Ponorogo) 

Photo
Photo
Editor : Nur Wachid
#literasi #Nurani #yayasan #nasional #OM Institute #okky madasari #fatherless #gerakan #Gen Z #budaya #nalar #Sutejo Spectrum Center #menulis #Naluri