Jawa Pos Radar Lawu - Sebuah data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepuluh juta orang muda di Indonesia berada dalam kategori pengangguran. Ada ketidakcocokan antara kebutuhan pasar kerja dan keterampilan lulusan baru adalah penyebab utama tingginya angka pengangguran Gen Z.
Hal ini diperparah oleh tren kerja yang berubah, karena banyak Gen Z lebih suka pekerjaan yang fleksibel dan mengimbangi pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka, yang dikenal sebagai work-life balance.
Sebaliknya, perusahaan sering kesulitan mempertahankan karyawan Gen Z, terutama fresh graduate, karena mereka cenderung memiliki ekspektasi tinggi terhadap gaji mereka.
Hal ini diperparah oleh tren kerja yang berubah, karena banyak Gen Z lebih suka pekerjaan yang fleksibel dan mengimbangi pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka, yang dikenal sebagai work-life balance.
Sebaliknya, perusahaan sering kesulitan mempertahankan karyawan Gen Z, terutama fresh graduate, karena mereka cenderung memiliki ekspektasi tinggi terhadap gaji mereka. Beberapa dari mereka bahkan memutuskan untuk keluar dari pekerjaan jika mereka merasa gaji mereka tidak memadai.
Selain itu, ada lebih banyak pekerja di sektor informal di Indonesia—60,12% lebih banyak daripada pekerja formal—yang menunjukkan bahwa banyak Gen Z sebenarnya tidak menganggur sepenuhnya.
Mereka mungkin bekerja sebagai freelancer, pembuat konten, atau jenis pekerjaan lain yang memungkinkan fleksibilitas waktu.
Pekerjaan informal ini, sayangnya, seringkali tidak didaftarkan secara resmi sebagai "pekerjaan tetap", yang meningkatkan angka pengangguran secara statistik.
5 Skill Penting yang Harus Dikuasai Gen Z untuk tahun 2025 mendatang
Dalam menghadapi tantangan pasar kerja di era digitalisasi, menguasai keterampilan tertentu menjadi sangat penting. Ida Ruspita, Duta Bahasa Provinsi Banten 2021, melalui kanal YouTube-nya, membagikan lima keterampilan penting yang harus dikuasai oleh Gen Z agar dapat beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.
- AI Fluency (kecakapan dunia digital baru)
Memahami komputer saat ini akan setara dengan memahami kecerdasan buatan (AI) di tahun 2025. Meskipun AI tidak dapat menggantikan manusia, manusia yang mampu menggunakannya akan lebih unggul daripada AI.
Memahami cara kerja AI, memberikan instruksi yang efektif, dan mengenali batasan AI memungkinkan manusia untuk menggunakan keterampilan istimewa mereka, seperti kreativitas, pemecahan masalah kompleks, dan membangun hubungan antar manusia, yang AI tidak dapat lakukan.
- Digital Transformation Leadership ( Kepemimpinan Transformasi Digital)
Hampir semua industri sekarang bergantung pada teknologi. Namun, yang memimpin transformasi digital bukan hanya mengikuti tren teknologi, tetapi juga mampu menggunakan teknologi untuk menyediakan solusi bagi bisnis atau organisasi.
- Strategic Foresight & Complex Problem-Solving
Keterampilan manusia untuk menyelesaikan masalah kompleks masih diperlukan, meskipun AI terus berkembang. Mempertimbangkan dampak jangka panjang, mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dan membuat keputusan yang efektif saat ada ketidakpastian adalah semua contoh kemampuan ini.
Masa depan dunia kerja akan penuh dengan masalah dan keraguan. Akibatnya, kemampuan untuk membuat rencana dan memecahkan masalah kompleks akan menjadi kemampuan yang tidak dapat diganti. Selain itu, kemampuan ini memungkinkan manusia membuat pilihan yang lebih cerdas daripada mesin.
- Emotional Intelligence (EI)
Kecerdasan emosional (EI) adalah aspek manusia yang tidak dapat diotomatisasi oleh mesin, meskipun banyak pekerjaan di masa depan akan diotomatisasi. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat, menginspirasi tim, mengendalikan dinamika sosial, dan menyelesaikan konflik.
Pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional tinggi lebih dihargai di lingkungan kerja karena mereka dapat menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, menumbuhkan kepercayaan tim, dan meningkatkan produktivitas. Kemampuan ini akan menjadi aset penting bagi mereka yang ingin sukses di dunia kerja. (*)