Jawa Pos Radar Lawu - Expecting perfection, tekanan orang tua yang membentuk generasi strawberry.
Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia (UI), menyoroti fenomena expecting perfection sebagai salah satu penyebab terbentuknya generasi strawberry.
Istilah expecting perfection merujuk pada pola asuh di mana orang tua mengharapkan anak mencapai hasil sempurna di segala bidang, mulai dari nilai akademik hingga prestasi ekstrakurikuler.
Tekanan ini, menurut Rhenald Kasali, sering kali membuat anak tumbuh dengan mental yang rapuh.
Ketika anak gagal memenuhi ekspektasi, mereka merasa kecewa, takut, bahkan menyalahkan diri sendiri. Pola pikir seperti ini rentan menciptakan individu yang mudah runtuh saat menghadapi tantangan hidup.
Apa Itu Expecting Perfection?
Expecting perfection adalah pola asuh yang terlalu menuntut anak untuk:
1. Memiliki nilai sempurna di semua mata pelajaran.
2. Menjadi juara di setiap kompetisi.
3. Memenuhi ekspektasi orang tua tanpa mempertimbangkan minat atau kemampuan anak.
Baca Juga: Penggemar One Piece dan Tahi Lalats merapat, Honda BeAT Punya Kejutan!
Contoh Nyata:
Anak yang dipaksa mendapat nilai 100 di setiap ujian akan merasa gagal jika hanya mendapatkan nilai 80, meskipun itu tetap pencapaian yang baik.
Anak yang tidak menyukai olahraga, tetapi dipaksa ikut kompetisi atletik demi memenuhi keinginan orang tua.
Tekanan seperti ini membuat anak kehilangan kebebasan untuk mengeksplorasi minat dan potensinya sendiri.
Dampak Negatif Expecting Perfection
1. Rendahnya Harga Diri
Anak cenderung merasa dirinya tidak cukup baik jika tidak memenuhi standar yang ditetapkan orang tua.
2. Kecenderungan Menyalahkan Diri Sendiri
Ketika gagal, anak sering kali merasa bersalah dan takut mengecewakan orang tua, yang berdampak pada kesehatan mental mereka.
3. Mentalitas Rapuh
Anak yang terbiasa ditekan untuk sempurna sering kali tumbuh menjadi generasi strawberry—mudah runtuh di bawah tekanan.
4. Kehilangan Motivasi Internal
Anak menjadi fokus pada penghargaan eksternal seperti pujian atau hadiah, bukan pada kepuasan dari usaha atau pembelajaran.
5. Minimnya Eksplorasi Potensi Diri
Anak kehilangan kesempatan untuk mengenal apa yang mereka sukai atau kuasai karena terlalu sibuk memenuhi tuntutan orang tua.
Solusi Pola Asuh yang Membangun Mental Tangguh
1. Kenali Potensi dan Minat Anak
Berikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi minat mereka, apakah itu olahraga, seni, atau mata pelajaran tertentu. Fokus pada apa yang membuat mereka bersemangat, bukan pada apa yang diinginkan orang tua.
Tips:
Ajak anak berdiskusi tentang apa yang mereka sukai. Jangan membandingkan anak dengan orang lain, termasuk saudara kandung.
2. Hargai Usaha, Bukan Hasil
Dorong anak untuk menikmati proses belajar atau berkompetisi, terlepas dari hasil akhirnya. Ini membantu mereka memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari perjalanan.
Tips:
Berikan pujian atas usaha, bukan hanya pencapaian. Ajarkan anak bahwa belajar dari kesalahan adalah hal yang wajar.
3. Berikan Target yang Realistis
Tetapkan target yang sesuai dengan kemampuan anak, bukan standar yang tidak realistis. Target yang terlalu tinggi hanya akan membuat anak merasa terbebani.
Tips:
Libatkan anak dalam menentukan target mereka sendiri. Revisi target jika ternyata terlalu sulit untuk dicapai.
4. Ajarkan Mental Juara Tanpa Tekanan Berlebihan
Biarkan anak belajar untuk menjadi juara di bidang yang mereka sukai. Mental juara tidak selalu berarti menjadi yang terbaik, tetapi mampu menerima tantangan dengan sikap positif.
Tips:
Berikan dukungan emosional, bukan sekadar tuntutan prestasi. Bantu anak mengelola ekspektasi mereka sendiri.
Expecting perfection adalah pola asuh yang berpotensi merusak mental anak jika diterapkan secara berlebihan. Seperti yang diingatkan oleh Rhenald Kasali, orang tua perlu memahami bahwa kesempurnaan bukanlah segalanya agar buah hati tidak memiliki mental generasi strawberry. (kid)
Editor : Nur Wachid