Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Fenomena Fatherless di Indonesia Tertinggi Ketiga di Dunia, Hanya 38,9 Persen Ayah Cari Informasi Pola Asuh Anak, Ini Penjelasan dan Dampaknya!

Nur Wachid • Kamis, 21 November 2024 | 20:12 WIB
Fenomena fatherless penting untuk parenting atau pola asuh anak.
Fenomena fatherless penting untuk parenting atau pola asuh anak.

Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam kehidupan anak kini menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Netizen ramai menyoroti pentingnya peran ayah dalam keluarga, terutama terkait dampak fatherless terhadap tumbuh kembang anak.

Indonesia bahkan disebut sebagai negara dengan tingkat fatherless tertinggi ketiga di dunia, sebuah fakta yang memicu keprihatinan luas.

Kondisi ini dapat berdampak serius karena anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah sering kali menghadapi berbagai persoalan, seperti kesulitan membangun rasa percaya diri, gangguan emosional, hingga risiko terjerumus pada perilaku menyimpang.

Selain itu, tidak adanya peran ayah juga dapat menghambat pembentukan nilai-nilai moral dan kemandirian dalam diri anak.

Di Indonesia, fenomena ini banyak dipicu oleh gaya hidup modern yang menuntut mobilitas tinggi, serta meningkatnya angka perceraian.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa jumlah perceraian di Indonesia terus bertambah setiap tahunnya, memberikan kontribusi besar terhadap meningkatnya angka fatherless.

Berbagai pihak menilai, penting untuk meningkatkan kesadaran akan peran ayah dalam pengasuhan anak.

Program edukasi bagi orang tua, kebijakan perusahaan yang mendukung keseimbangan kerja dan keluarga, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan di dalam keluarga menjadi beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak fatherless.

Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2017 tentang kualitas pengasuhan anak di Indonesia.

Baca Juga: Profil Dion Markx: Bek Muda Berdarah Indonesia Bidikan PSSI Untuk Timnas U-20 dan Senior

Baca Juga: PSSI Perkuat Timnas Indonesia Lewat Naturalisasi Tim Geypens, Bek Muda Berdarah Belanda-Indonesia

Bahwa sebelum menikah, hanya sebesar 27,9% calon ayah yang berusaha mencari informasi tentang cara mengasuh dan membesarkan seorang anak, dan setelah menikah, hanya 38,9 persen ayah yang mencari informasi tentang pola asuh anak.

Munculnya fenomena fatherless lebih sering disebabkan karena adanya paradigma pengasuhan yang dipengaruhi oleh budaya patriarki.

Di mana dikatakan bahwa proses mengurus anak ditanggung oleh sang ibu dan ayah tidak seharusnya mengurus anak atau terlibat dalam hal pengasuhan.

Ketimpangan dalam perkembangan psikologis anak dapat disebabkan oleh kehilangan salah satu figur dalam pengasuhan. Sisi feminin dari ibu dapat membantu perkembangan, emosi, empati, dan kasih sayang.

Ayah, di sisi lain, akan mengajarkan anak-anak logika dan sifat maskulin, seperti membuat keputusan, menjadi mandiri, dan tetap teguh.

Puas terhadap keluarga dan pertemanan adalah dua indikator kepuasan hidup dalam domain tertentu.

Diharapkan peran ayah dalam keluarga dapat membantu remaja dalam masa kritis mereka, terutama dalam hal emosi positif dan kebahagiaan hidup. (dhavita-mg-iain/kid)

Editor : Nur Wachid
#dampak #Apa Itu #indonesia #parenting #penjelasan #fenomena #anak #fatherless #peringkat #pola asuh