Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah maraknya mi instan, Indonesia memiliki mi tradisional bernama Mi Lethek yang berasal dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kata lethek dalam bahasa Jawa berarti "kusam" atau "kotor", merujuk pada warna mi yang kecokelatan karena tidak menggunakan pewarna buatan. Meski tampilannya sederhana, Mi Lethek justru dikenal karena proses pembuatannya yang masih tradisional dan menggunakan bahan-bahan alami.
Terbuat dari Singkong, Tanpa Pewarna dan Pengawet
Berbeda dengan sebagian besar mi instan yang diproduksi secara massal, Mi Lethek dibuat dari campuran tepung singkong (gaplek) dan sedikit tepung terigu. Proses pembuatannya pun masih menggunakan alat tradisional dan dikeringkan secara alami di bawah sinar matahari. Mi ini tidak menggunakan pewarna maupun pengawet, sehingga warna kusamnya menjadi ciri khas sekaligus tanda bahwa bahan yang digunakan lebih alami.
Lebih Minim Bahan Tambahan, Bukan Berarti Lebih Bergizi dari Semua Mi
Karena dibuat tanpa pewarna dan pengawet, Mi Lethek sering dianggap sebagai pilihan yang lebih alami dibandingkan mi instan. Selain itu, mi ini tidak disertai bumbu instan yang umumnya mengandung natrium cukup tinggi. Namun, bukan berarti Mi Lethek otomatis lebih bergizi. Nilai gizinya tetap bergantung pada bahan pelengkap yang digunakan, seperti sayuran, telur, tahu, tempe, atau sumber protein lainnya. Dengan tambahan bahan tersebut, Mi Lethek dapat menjadi hidangan yang lebih seimbang.
Warisan Kuliner yang Mendunia
Keunikan Mi Lethek membuatnya dikenal hingga mancanegara. Kuliner khas Bantul ini pernah disajikan dalam berbagai acara kenegaraan dan menjadi salah satu ikon kuliner tradisional Yogyakarta. Hingga kini, banyak wisatawan datang langsung ke sentra produksi Mi Lethek untuk melihat proses pembuatannya sekaligus mencicipi cita rasa autentiknya. (*)
Anggie Putri Wijayanti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Kementerian Pariwisata RI, Indonesia Kaya, Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul