CERITA MISTERI, Jawa Pos Radar Lawu – Siapa bilang mancing nggak risiko? Seorang pemancing melihat pocong di bangku kosong Telaga Sarangan saat nekad memancing malam-malam.
Ia sudah mulai merasakan ada yang aneh dari sebelum memancing. Bagas (27) warga asli Desa Plaosan, Magetan.
Untuk melepaskan penat setelah beberapa hari kerja lembur, Bagas malam itu (01/05/25) pergi memancing.
Sesampainya di Telaga Sarangan, hawa tidak enak terasa.
“Mendung tapi nggak hujan. Langit gelap, nggak ada bintang bulan, kabut turun. Telaga Sarangan sepi nggak kayak biasanya, Mas. Ada beberapa orang tapi cuma kayak satu dua gitu doang.”
Sudah terlanjur sampai telaga, Bagas pantang pulang. Ia mengabaikan semua firasat buruknya. Lalu mulai memasang umpan di ujung jorannya.
Padahal menurut warga sekitar, firasat tidak enak dan Telaga Sarangan yang tiba-tiba terasa sepi adalah pertanda buruk.
Penghuni Telaga Sarangan yang tak kasat mata keluar di momen-momen tersebut.
“Tanggung, udah sampai sini masa’ nggak jadi mancing,” tambah Bagas.
Umpan pertama dilemparkan. Kimpul yang berada di atas air hanya menunjukkan pergerakan kecil.
Tidak ada ikan besar yang menyambar sampai umpannya habis. Tak patah arang Bagas kembali melempar umpan kedua.
Hasilnya masih sama, bahkan di lemparan yang ketiga, keempat, dan seterusnya. Bagas jadi sangat kesal. Ia mengumpat memaki Telaga Sarangan.
Di tengah luapan emosinya, Bagas tak sengaja menoleh. Di belakang tempatnya berdiri ada sebuah bangku kosong.
Sesosok pocong duduk menatap ke arahnya dengan tatapan geram.
“Wajahnya item gosong, Mas. Matanya merah, melotot. Dibungkus kain kafan kotor. Pantes aja nggak dapet ikan. Dari tadi ternyata saya ditemani pocong!” (*)
Editor : Nur Wachid