CERITA MISTERI, Jawa Pos Radar Lawu – Salah seorang pengunjung membagikan kisah horor yang dialaminya kala berwisata di Telaga Sarangan.
Ia melihat sesosok pocong di pulau tengah Telaga Sarangan. Yang bikin merinding lagi, pocong itu berdiri menatapnya.
Kabut Pekat, Hujan Gerimis, Sosok Putih di Pulau Kosong Sakti (35) wisatawan asal Nganjuk, berangkat liburan dengan istri dan anaknya ke Telaga Sarangan. Siang hari mereka sampai di penginapan.
“Pas sampai posisinya hujan. Ya kami jadinya stay di penginapan dulu nunggu reda. Nah pas itu saya lihat penampakan. Udah sore sih. Masih rada gerimis gitu. Anak-anak sama ibunya makan sate. Saya berdiri di tepi telaga. Ada pocong di pulau tengah liatin saya,” kata Sakti.
Sosok yang dilihat Sakti:
• Buntalan kain kafan putih
• Berdiri di antara pohon-pohon
• Matanya merah menyala menatap Sakti
Gerimis dan kabut membuat jarak pandang minim. Tapi Sakti yakin seratus persen sosok yang dilihatnya adalah pocong.
Banyak warga yang melihat sosok serupa selain Sakti
Penampakan yang Lazim
Seperti yang dialami Sakti, penjual sate juga pernah mengalami hal yang sama. Ia juga pernah melihat sosok pocong di pulang tak berpenghuni di tengah Telaga Sarangan.
Baca Juga: Cerita Misteri Tulang Wangi, Pulang Study Tour Seorang Siswi Asal Magetan Ketempelan
“Kalau saya lihatnya malam-malam. Tapi posisinya juga gerimis dan kabut. Sama kayak yang dilihat Mas Sakti. Buntelan kain kafan, melihat ke arah saya. Wah setelah itu pulang saya demam 3 hari, Mas.”
Saking banyaknya kejadian serupa, warga menganggap penampakan adalah hal yang lazim di Telaga Sarangan. Termasuk beberapa penampakan lain.
Urban Legend Telaga Sarangan
Bukan hanya pocong, Telaga Sarangan menyimpan banyak urban legend yang tumbuh berdampingan dengan pembangunan infrastruktur Telaga Sarangan.
Warga percaya mau zaman berubah modern, Telaga Sarangan tak akan kehilangan misteri dan pesona urban legend di dalamnya.
Berikut beberapa urban legend yang dipercaya masyarakat:
• Pocong penghuni pulau tengah
• Delman setan
• Perahu tak berpenumpang
• Monyet putih titisan Anoman
Meski begitu, Telaga Sarangan semakin hari semakin memperbaiki diri.
Sejarah Pembangunan Telaga Sarangan
Telaga Sarangan adalah danau alami yang sudah dikenal oleh masyarakat lokal sejak zaman dahulu, bahkan sebelum zaman kolonial.
Namun, secara resmi, telaga ini mulai dikenal lebih luas pada awal abad ke-20, terutama oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pembangunan dan peremajaan dilakukan antara lain:
• Tahun 1930-an:
Pemerintah kolonial Belanda mulai membangun jalan dan penginapan sederhana
• Tahun 1976:
Pemerintah Indonesia melalui Dinas Pariwisata mulai melakukan penataan kawasan wisata. Dan mulai melakukan promosi wisata
• Tahun 1980–1990-an:
Dibangun berbagai fasilitas publik seperti area parkir, kios oleh-oleh, warung makan, dan penginapan sederhana.
• Tahun 2005–2010:
Dilakukan revitalisasi jalan dan perahu wisata, serta pembangunan taman dan tempat duduk di sekitar telaga.
• Tahun 2018–2022:
Pemerintah Kabupaten Magetan dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan pembangunan ulang kawasan wisata agar lebih modern dan tertata, termasuk penataan jalan, lampu, dermaga, dan tentu saja kuliner
• Tahun 2023–2024 (hingga sekarang):
Pemerintah terus mengembangkan Telaga Sarangan sebagai bagian dari kawasan wisata unggulan, termasuk digitalisasi promosi wisata dan pengembangan ekowisata berbasis komunitas lokal. (*)
Editor : Nur Wachid