Jawa Pos Radar Lawu - Perjalanan mendaki Gunung Lawu seorang pemuda berujung petaka. Seperti cerita misteri, ia dicegat banaspati gara-gara memisahkan diri dari rombongan.
Semula ia melihat cahaya dari jauh. Begitu didekati, cahaya tersebut berubah menjadi nyala api.
Makin lama makin jelas.
Kepala terbakar mengejarnya diiringi suara tawa cekikan yang membuat gemetaran.
Rangga (21) sebenarnya berangkat bersama rombongan berjumlah 4 orang. Mereka tergabung dalam komunitas MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) sebuah kampus ternama di Jawa Tengah.
Bosan menunggu temannya yang beristirahat terlalu lama di puncak, iseng Rangga jalan turun duluan.
“Aku udah pernah naik lawu 5 kali. Makanya biasa aja pas nyampe puncak.” Rangga menuturkan alasannya.
Banyak orang percaya Gunung Lawu adalah gunung angker. Saat berjalan sendiri, tak jarang pendaki dapat gangguan.
Setelah melewati pos 4 menuju pos 3, baru Rangga membuktikan mitos tersebut.
“Awalnya aku kira senter atau api unggung biasa, Mas. Makin lama makin dekat bentuknya makin jelas. Bentuknya kepala terbakar gede gitu. Ya saya lari ngibrit,” imbuh Rangga.
Saking takutnya, Rangga sampai terjatuh terpelanting berkali-kali. Jalan turun dicegat, Rangga lari naik ke atas lagi.
Baca Juga: Tak Asal Upacara! Begini Panduan Lengkap Peringatan Hardiknas 2025 Resmi dari Kemendikdasmen
“Sampai di atas saya malah diketawain sama anak-anak. Emang kurang ajar mereka.”
Malam itu Rangga tak mau aneh-aneh lagi. Mereka berempat memutuskan mendirikan tenda dan menghabiskan malam di puncak.
“Sekarang yang penting bareng-bareng, Mas. Saya kapok. Nggak mau cilaka sendirian.” (*)
Editor : Nur Wachid