Cerita Misteri Pendakian Jalur Baru Gunung Lawu
UDARA hutan mulai berubah. Angin berembus lebih dingin. Makin lama tawa mereka makin surut.
Suara pohon bambu dan gesekan dedaunanmulai terdengar lagi. Mila naik lebih dulu dari kolah.
Ia membungkuk, menyibak rambut basahnya ke belakang sambil tersenyum puas. “Lama-lama makin dingin ish,” gumamnya.
Ia lantas mengambil handuk dari dalam tas dan berjalan ke balik tembok petilasan batu petilasan. Danu menyusul beberapa menit kemudian.
Berjalan berjingkat, menyisir jari rambut basahnya. “Lama-lama gue jadi ngantuk. Ganti baju dulu deh.”
Tanpa banyak kata, ia ikut melangkah ke arah yang sama dengan Mila, membawa bajunya. Tak biasanya seorang Danu melupakan kamera kecilnya begitu saja.
Ari dan Andri masih berenang santai di dalam kolah. Namun setelah lima belas menit lebih berlalu, keduanya mulai saling pandang.
Curiga sekaligus bingung. “Mil,” panggil Andri sambil menoleh ke sekitar. “Danu...” Tak ada jawaban. Hanya ada suara alam yang menelan panggilan Andri.
“Tumben lama amat mereka,” gumam Ari. “Nggak muncul-muncul lagi dari tadi.”
Ia menatap ke tembok petilasan yang tak bergeming, tempat terakhir mereka melihat Mila dan Danu menghilang.
Andri berenang ke tepi, mencengkram batu sambil mengangkat alis. “Ganti baju doang, kok lama?”
Ari hanya menggeleng pelan. Hatinya mulai bergetar lagi, seperti tali gitar ditarik terlalu keras. “Jangan-jangan mereka?” Baru sekarang Ari benci pikirannya sendiri. (bersambung)
Editor : Nur Wachid