Cerita Misteri Petilasan Gunung Lawu
Pos pemberangkatan sudah mereka lewati setengah jam lalu. Langit masih cerah, kabut tipis mulai turun perlahan.
“Gue udah bisa bayangin sih kalau kita berhasil nemuin jalur baru,” seru Danu. “Kita bakal terkenal, Bre.” Andri dan Ari geleng-geleng kepala.
“Eh iya juga ya.” Cuma Mila yang semangat menyahuti. Saking semangatnya sampai berbalik badan berjalan mundur.
“Gara-gara kita trus jadi ada jalur baru. Kita namain apa jalur ini ntar?” “DAMAR!” sorak Danu.
“Jalur DAMAR. DANU, ANDRI, MILA, ARI,” terang Mila. “Nama yang keren banget asli. Gimana, Dri, Ar? Setuju gak?”
“Gue sih yang penting daki.” Andri meringis. “Nggak daki gunung sebulan aja sakau rasanya, Bre.”
“Gue setuju-setuju aja sih.” Ari menatap puncak yang tersembunyi di antara pucuk daun. Pasrah.
Di antara pos kedua dan ketiga, mereka menemukan jalur kecil yang tertutup semak liar.
Semak belukar di antara rapat pepohonan. Jalan setapan yang seperti tidak pernah dijamah kaki manusia.
“Lu bawa parang kan?” tanya Mila. Andri mengangguk, menurunkan tas ransel, mengeluarkan parang besarnya. “Aman.”
Danu mengelurkan ponselnya lagi. “Guys, di depan ini ada jalur kecil yang udah tertutup tanaman lebat banget. Kita berempat nih.”
Kemera berputar, menyorot Andri, Mila, dan Ari.“Mau coba daki lewat jalur baru. Tunggu kelanjutan cerita kita. Oke?”
Sementara mata Ari tak lepas mengawasi sekitar. Dekat dengan mereka burung jalak lawu bertengger.
Tak berkedip.Menatap mereka kosong.Mendadak firasat tak enak menyelimuti Ari. (bersambung)
Editor : Nur Wachid