Youtuber Kesurupan Macan Lawu saat Berburu Konten Cerita Misteri di Gunung Lawu
TERIAKAN Arman menggema memecah sepinya hutan Gunung Lawu. Burung serta kelelawar di dahan-dahan berterbangan.
Lantas seketika tubuh Armanjatuh ke tanah. Seluruh tubuhnya menegang kaku. Posisinya merangkak seperti hewan empat.
Tangan dan kukunya menghantam tanah dan batu tajam, mencakar-cakar liar. Suaranya membesar, teriakan jadi auman yang mengerikan.
“KOE SOPO?! MINGGAT KABEH!(KALIAN SIAPA?! PERGI KALIAN SEMUA!”) Kabut di mengepung mereka makin tebal.
Mendadak aroma kemenyan, kembang melati, dan anyir darah bercampur di udara. “MAN! MAN DENGER GUE!” Indra merunduk cepat, menahan kepala Arman di bawahnya.
Mulut Arman terbuka. “MINGGAT! MINGGAT! MINGGAT TEKAN KENE!! (PERGI! PERGI! PERGI DARI SINI!!)”
Matanya terbuka, tapi pupilnya lenyap. Putih semua. Indra telat. Sungguh sangat telat menyadarinya.
Arman sudah lebih dulu kesurupan. Tak mau melewatkan momen, Raka langsung mengarahkan kameranya.
Fokus. Angle atas. Lalu geser ke samping. Close up. Wide shot. “Guys... Arman kesurupan. Asli. Liat, liat! Anjir-anjir, Bulu kuduk gue merinding,” bisiknya ke kamera.
“No settingan. Gila, Gue akuin Gunung Lawu angker bener.” Ke-keos-an makin menjadi.
Arman, orang yang paling cupu di antara mereka bertiga melompat dari batu ke batu.
Indra susah payah menakhlukannya. Sedikit gerakan kasar, membanting Arman kembali ke tanah.
Bibirnya komat-kamit membacakan sesuatu pelan.Gerak tangannya teratur, menyentuh dada Arman. Sekali di dahi.
Lalu diam cukup lama di ubun-ubun. Arman mengerang kesakitan. Indra tak berhenti.
Sosok yang merasuki Arman bukan sosok biasa. Raka mengambil satu lagi shot dari belakang semak.
“No setting ya. No settingan. Gue sampai ngos-ngosan,” lanjut Raka.
Baru beberapa detik Raka selesai bicara. Indra meringis. Arman terlalu kuat, lehernya menoleh pelan-pelan.
Sekarang, sepasang mata Arman yang bengis menatap ke arah semak. Tempat Raka bersembunyi.
Dengan senyum menyeringai bak binatang buas lapar. Indra kalah. Arman lepas kendali.
Raka dalam bahaya. “RAKA! LARI!” (bersambung)