Kesaksian Tiga Youtuber Berburu Konten Cerita Misteri di Gunung Lawu
INDRA tak bisa bergerak. Tubuhnya seolah ditindih sesuatu yang tak terlihat. Nafasnya tersengal, meringis sesak, matanya berkedip lambat. Indra masih sadar.
Tapi ia tak bisa melawan. Di sampingnya, Arman semakin panik. “Ndra! Lo kenapa sih?!” Arman jongkok, memegangi bahu Indra. “Ndra! Plis, INDRA!”
Flash kamera menyala. Raka tak ingin melewatkan momen berharga di depan matanya.
Arman menoleh cepat. Raka berdiri tak jauh, menyorot kamera ke arah Indra dengan ekspresi tanpa beban.
“RAKA?!” bentak Arman, amarahnya meledak. “INDRA LAGI KAYAK GINI LO MALAH SIBUK NGEREKAM?!”
“Diem lo, Man!” jawab Raka cepat, tak menurunkan kameranya. “Momen langka, konten mahal, Man! Gila lo?! Ini bisa viral! Gangguan di Gunung Lawu. Akhirnya kita dapat!”
“DIA TEMEN KITA, RAKA! ANJING! DIA BUKAN OBJEK KONTEN!” Arman mendorong bahu Raka, membuat kameranya oleng. Tapi Raka tetap tak bergeming.
“LO TEMEN MACAM APA, RAK! LO LEBIH JAHAT DARIPADA SETAN!” Amarah Arman meledak sampai pita suaranya bergetar hebat.
Benar kata orang, kalau ingin tahu sifat asli seseorang ajak dia naik gunung. “Kalian berdua stop...” Parau suara Indra melerai pertengkaran.
Pelan-pelan Indra berusaha duduk. Napasnya mulai teratur walau wajah pucatnya masih dibanjiri keringat dingin.
Mereka terdiam. Hening yang panjang. Hanya bunyi gesekan ranting yang menemani malam yang makin dingin.
Indra membuka ranselnya perlahan. Mengambil botol minum, meneguk pelan. Tangannya masih gemetar.
“Kita harus balik,” ulang Indra. “Ga bisa,” tegas Raka mengencangkan rahang. “Kalau kalian mau balik, balik aja. Gue lanjut sampai puncak.”
Diam lagi. Indra tersenyum miring. “Kalau lo tetap mau lanjut ke puncak... Oke fine. Gue ikut.”
Raka mengangguk cepat. “Tapi satu hal,” lanjut Indra. “Lo udah ngabaikan peringatan gue. Mulai sekarang, gue gak akan jaga lo lagi.”
Senyap. Indra tak bercanda. Kalimat itu seperti garis pembatas. Tak terlihat, tapi terasa jelas.
“Mulai sekarang sampai nanti turun. Kita urus diri kita masing-masing.” (bersambung)
Editor : Nur Wachid