Cerita Misteri Jalur Pendakian Keramat Gunung Lawu Part 17
ALYA berlari tergesa-gesa. Sedikit saja hilang fokus, setiap jejak yang ia tinggalkan seakan menariknya kembali ke dalam kegelapan.
Sepanjang jalan yang ia lewati, gangguan muncul semakin sering.
Suara tawa mengerikan seorang perempuan terdengar bergema. Bersalipan masuk ke telinga kanan dan kirinya tanpa jeda seakan menyatu dengan angin.
Di antara barisan pepohonan di kanan dan kiri, bayangan-bayangan tinggi tanpa muka kembali muncul.
Nafasnya memburu, dadanya sesak bukan main. Ia tak boleh berhenti. Tidak sekarang.
Ia tak boleh kehilangan Jalak Lawu yang masih terbang di depannya.
Alya merasakan ketakutan yang tak tertahankan kala sosok tinggi besar bermata besar tiba-tiba muncul di menghalangi kedatangannya.
“AAAAA ....!!!” Alya berteriak sekencang-kencang kala tubuhnya menembus sosok itu.
“Tidak-tidak. Aku tidak boleh menoleh ke belakang.” Alya mempercepat langkah kakinya. “Aku harus kelur. Aku masih mau hidup.”
Di tempat lain, di dunia nyata, Mbah Drajat membuang napas panjang.
Setelah merapalkan doa, ia membuka mata. Mbah Drajat menatap serius Reno, Dika, dan Sarah yang duduk dengan gelisah di hadapannya.
Mereka duduk melingkari lumpang tanah liat berisis kemenyan, kembang 7 rupa, dan beberapa piranti lain.
"Siapa di antara kalian yang bisa merasakan kehadirannya?" tanya Mbah Drajat, suaranya dalam dan tegas.
“Alya sudah dekat,” tandasnya. Tak ada yang langsung menjawab. Dika melirik Sarah, dan Sarah menggeleng.
Sampai akhirnya, dengan sedikit gengsi, Reno mengangkat tangannya. Matanya tak langsung menatap Mbah Drajat.
Di antara mereka berempat, ia yang paling menolak percaya hal gaib. Sekarang, cuma dia yang bisa.
"A-aku,” ucap Reno lirih “Aku bisa merasakannya." Alya ada di sekitar mereka. Sangat dekat tapi tak tergapai. Sangat jelas tapi tak bisa dilihat mata kepala Reno.
Mbah Drajat menatap Reno, lantas mengangguk. "Dengarkan aku baik-baik, Nak. Saat waktunya tiba, lakukan apa yang kuperintahkan. Nyawa Alya ada di tanganmu."
Mbah Drajat mendekatkan wajah, mata melotot, sepasang alis terangkat. Tidak main-main.
“Kuulang sekali, lagi. Nyawa Alya, di tanganmu.” (bersambung)