Cerita Misteri Jalur Pendakian Gunung Lawu Part 16
ALYA terombang-ambing. Bayangan Sarah di balik kabut terlihat begitu nyata mengundang. Di depannya burung jalak menunggu.
Di tengah kebimbangannya, suara kepak sayap memecah keheningan. Burung Jalak Lawu turun dari dahan, melompat-lompat mendekatinya.
Paruhnya kuning keemasan mulai mematuk-matuk kaki Alya, tidak keras, tapi berulang kali sambil berkicau terus menerus.
Seolah memaksa Alya untuk sadar. Kicauannya cepat bak seorang ibu yang memarahi anak perawannya.
Alya mundur selangkah, menatap Sarah yang masih berada di balik kabut.
"Sa-Sarah ...” Kerongkongannya tercekat. “I-itu beneran kamu?" Pita ssuaranya bergetar.
“Iya ini gua, Al.” Tapi bayangan itu hanya berdiri diam. Lebih aneh lagi karena nada bicaranya datar dan hampa.
Detak jantung Alya berpacu. Hati tak bisa dibohongi, semakin ia memperhatikan, semakin Alya menyadari, ada sesuatu yang salah.
Sarah tidak pernah hanya berdiri diam seperti itu. Sarah selalu bergerak, selalu gelisah. Ia pasti akan menghampiri lalu memaki-maki Alya.
Di bawah kakinya, burung Jalak Lawu semakin gencar. Patukan kecilnya berubah menjadi dorongan, mendesak Alya menjauh dari bayangan yang terus memanggil namanya.
Alya menarik napas panjang. Ia harus memilih. Bayangan Sarah di belakangnya, atau burung Jalak Lawu di depannya?
Di beberapa situasi, alam semesta lebih tahu daripada manusia yang palsu. Alya mengepalkan tangannya. Ia ingin pulang. Ia ingin hidup.
Ia rindu ibu. Dan rumah. Tanpa menoleh ke belakang lagi, Alya membulatkan tekad.
Kakinya melangkah mengikuti burung Jalak Lawu masuk lebih jauh ke dalam kegelapan kabut.
“Semoga ini jalan yang benar.” (bersambung)
Editor : Nur Wachid