Cerita Misteri Jalur Pendakian Keramat Gunung Lawu Part 13
TUBUH Dika menegang begitu mendengar kalimatnya. “Maksud Mbah apa?! Kita lagi berduka lo,
Mbah. Jangan memperkeruh suasana.”
Mbah Drajat melirik. “Simpan emosimu anak muda.”
“Dika!” Sarah mendukung Mbah Drajat. “Dengerin dulu.”
Hening. Ketegangan mereda.
“Alya sedang datang bulan. Makhuk halus suka aroma darah segar,” jelas Mbah Drajat singkat.
Singkat namun membungkam Reno, Dika, bahkan Sarah.
“Trus kami harus bagaimana, Mbah?” Sarah tak sabar.
“Sar,” potong Reno yang tak percaya hal gaib. “Really?”
Di depan posko, seokor burung jalak lawu turun dari dahan. Melompat-lompat, berkicau tak jauh dari mereka.
“Aku tidak berjanji bisa membawa anak itu pulang. Tapi aku bisa meminta tolong pada pasukan Jalak Lawu.”
Mendengar suara Mbah Drajat beriringan kicaun burung membuat bulu kuduk sarah merinding.
Dika terlihat menimbang-nimbang. Mau bagaimana pun ia lah ketua regu pendakian ini.
Sementara Reno justru mendengus, menyilangkan tangan di dada.
Tiga hari, sudah tiga hari lamanya mereka tidak istirahat. Hampir 72 jam mereka tidak berhenti mengkhawatirkan Alya.
“Pasukan Jalak Lawu?” ujarnya, menyeringai sinis.
“Mbah! Ini bukan zaman dongeng. Yang kami butuhkan itu tim SAR, bukan burung jalak atau apalah. Kita nggak butuh.”
Mbah Drajat tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kecil. Seolah tahu bahwa Reno akan menelan kembali kata-katanya dalam waktu dekat.
“Waktu kalian nggak banyak. Sampai nanti malam Alya belum pulang. Saya tidak bisa menolong kalian lagi.”
Hening semakin panjang. “Naib Alya. Ada di tangan kalian,” tandas Mbah Drajat. (bersambung)
Editor : Nur Wachid