Jawa Pos Radar Lawu - Alya menelan ludah, Gunung Lawu yang tadinya menyenangkan kini berubah seperti penjara penuh pengawasan.
Udara di dalam tenda terasa semakin pengap. Bau anyir semakin menusuk hidung, merangsek mengaduk-aduk lambung.
Alya tak bisa menunggu lebih lama lagi. Kalau begini terus Sarah bisa-bisa ikut mencium baunya.
Dengan gerakan hati-hati, Alya merangkak menuju pintu tenda. Sebisa mungkin Alya tak menimbulkan suara sedikit pun.
"Srekk..."
Resleting bergerak pelan. Setiap gesekannya terasa begitu nyaring di telinga.
Ketegangan memuncak berbaur dalam kesunyian malam yang mencekam.
Ia menahan napas, sesaat menoleh, menunggu reaksi. Tak ada. Sarah masih terlelap, begitu pula
Reno dan Dika di tenda sebelah.
Mereka semua masih mendengkur pulas.
Dengan langkah buru-buru, Alya melangkah keluar.
Udara dingin langsung menyergap kulitnya, menusuk hingga ke tulang.
Samar-samar, aroma hutan berkabut membaur dengan bau anyir yang masih melekat di hidungnya.
Alya menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada yang memperhatikannya.
Sejauh mata memandang, hanya pohon-pohon tinggi yang berdiri kokoh dalam bayangan malam.
Api unggun kecil yang mereka buat tadi sore telah padam, menyisakan bara yang redup.
Alya menggigit bibir. Ia harus segera menyelesaikan urusannya sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Sebelum sosok yang tertawa tadi tiba-tiba muncul menggentayanginya.
Dengan cepat, ia berjalan menjauh dari tenda, mencari tempat yang cukup tersembunyi di balik semak-semak.
Baru beberapa langkah, ia melihat seseorang berdiri tidak jauh di depannya.
Punggungnya menghadap Alya.
Alya terkesiap, sepasang kakinya berhenti bergerak.
Dari belakang, Alya mengenalinya.
“Sa-Sarah?” (bersambung)
Editor : Nur Wachid