JAWA POS RADAR LAWU - Ini lanjutan kisah nyata yang dikemas jadi cerita tentang seorang ibu jual anak di Ngawi bagian 2. Kendati fiksi, ada banyak fakta diselipkan dalam kasus yang membuat geleng-geleng kepala itu.
Di bagian pertama, pembeli bernama Sarban coba mempraktikkan kode rahasia saat berniat hohohihe di warung kopi milik Rakinah di Ngawi itu. Senyum yang merekah menjadi respons si pembeli atas kode tutup cangkir dari Sarban.
Cerita ibu jual anak bagian 2 ini akan mencoba membeber beberapa rahasia tentang praktik esek-esek berkedok warung kopi tersebut.
''Mas ini siapa namanya?'' tanya Rakinah usai menerima cangkir tanpa tutup yang disodorkan Sarban.
''Saya Sarban,'' jawab Sarban yang tampak kikuk. Telapak tangan kiri yang menggenggam tutup cangkir itu kini bersembunyi di bawah meja.
''Asli mana, Mas? Rakinah kembali bertanya. Kini, dengan nada yang genit. Plus, sorot mata yang mengisyaratkan kegirangan.
''Ibu jangan tanya macam-macam,'' ujar Sarban yang mulai merasa tak enak dengan pengulikan identitasnya.
Mengetahui pelanggan merasa tak nyaman, Rakinah lantas memanggil anaknya. Perempuan di balik selambu yang semula jadi fokus pandangan Sarban akhirnya keluar.
Si anak sekarang berdiri di samping Rakinah. Sarban menelusuri bentuk tubuh gadis yang kini berada di hadapannya.
Sejurus kemudian, mata Sarban beralih ke Rakinah. Tanpa perkataan apapun, keduanya tampak paham apa yang dimaksud masing-masing.
''Kalau Mas mau, 150 ribu saja,'' ujar Rakinah. Bersamaan itu, si anak tersenyum seolah mengiyakan apa yang baru saja dibilang oleh ibunya.
Sarban seketika clingak-clinguk memandangi kondisi warung kopi di Ngawi itu. Sebuah bangunan semi permanen berbahan bambu itu diamatinya sudut demi sudut.
Selain deretan minuman saset yang digantung rapi, sarban cuma mendapati bilik kecil. Sebuah ruangan yang dipakai anak Rakinah merapikan baju.''Tenang Mas, ada tempat khusus.
''Bukan di situ,'' kata Rakinah yang mencoba menerka apa yang sedang dalam pikiran Sarban.
Keinginan Sarban untuk hohohihe sudah di ubun-ubun. Bak kerbau dicucuk hidungnya, dia segera mengeluarkan dompet dari kantong celana jeans yang dipakai.
Dua lembar uang Rp 100 ribu disodorkan. Rakinah langsung menerima dan memberikan selembar Rp 50 ribu sebagai kembalian.
''Ini bagianmu,'' kata Rakinah sembari memberikan Rp 100 ribu kepada anaknya. Tangan si anak dengan ringan menerima.
Mendapati kerja sama antara ibu dan anak itu, Sarban sempat terdiam keheranan. Dia tak habis pikiran tentang begitu lihainya kongkalikong hohohihe bertajuk ibu jual anak di Ngawi itu.
''Ayo, Mas,'' ajakan anak Rakinah kepada Sarban yang membuyarkan pikiran heran di kepala pria hidung belang itu. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan