SEJUMLAH remaja di desa tempat tinggal Gantari sedang berkumpul di pos kamling.
Mereka sibuk menekuri handphone masing-masing.
Usut punya usut, kalangan puber itu berlomba adu cepat mendapatkan link guru dan siswa di Gorontalo yang viral.
Satu anak meninggalkan kumpulan. Habis kuota internet jadi musababnya.
Satu anak yang lain berteriak lantang: ''Aku menang, ini video Gorontalo,''.
Teriakan itu terdengar sampai warung tempat sejumlah pembeli yang bergunjing tentang pasangan Gantari dan Atmo.
''Atmo itu duda asal Gorontalo, ya? Daerah yang akhir-akhir ini jadi omongan anak-anak muda,'' kata pemilik warung.
''Betul. Maka dari itu, dia tidak tahu bahwa Gantari adalah perempuan bahu laweyan,'' sahut seorang pembeli.
''Pantas saja, dia nekat menikahi Gantari. Mungkin di sana tidak ada cerita, mitos, atau sebagainya, tentang bahu laweyan,'' sahut pembeli yang lain.
Pergunjingan mengenai Gantari dan Atmo berlanjut.
Ciri-ciri perempuan bahu laweyan dibeber semakin detail.
Bahwa, bahu laweyan dapat dimaknai sebagai kutukan.
Dialami perempuan berparas cantik jelita.
Gampang membuat laki-laki tergoda.
Orang-orang percaya, suami perempuan bahu laweyan akan mati.
Kutukan akan selesai setelah memakan tujuh nyawa suami.
Suami ke-8 tak akan jadi pelebur nasib apes perempuan bahu laweyan.
''Kelak kalau Atmo mati, aku siap jadi suami Gantari. Janda belum punya anak, bodinya masih sip,'' seloroh salah seorang pembeli.
''Dasar hidung belang, Gantari yang tak sudi denganmu,'' sahut pembeli yang lain disusul gelak tawa seisi warung. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan