CERITA tentang balai desa dari Pak Marmo dicermati betul oleh Sakat.
Pemuda 20 tahun itu bergidik seketika. Sesaat setelah Pak Marmo mengisahkan salah satu kejadian di luar nalar yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri.
Pak Marmo pernah mendapati seorang perempuan, bukan warga setempat, mendatangi balai desa di kaki Gunung Lawu.
Terlihat perempuan itu membawa sebuah kendi.
Yang membuat jidat Pak Marmo berkerut kala itu, si perempuan memakai air di dalam kendi yang dibawanya untuk mandi.
Bukan diguyur, tapi dibasuhkan sedikit demi sedikit.
Anehnya, air di dalam kendi tak seberapa besar itu mampu membasahi sekujur tubuh perempuan itu.
Mulai ujung rambut sampi telapak kaki, semuanya kuyub.
Setelah itu, perempuan itu menari-nari.
Pak Marmo yang dikenal banyak orang sebagai pegiat budaya, tak tahu jenis tarian yang diperagakan perempuan itu.
Sekitar setengah jam kemudian, perempuan duduk setimpuh.
Kedua telapak tangannya ditangkupkan seperti orang sungkem saat Lebaran.
Pak Marmo kala itu semakin penasaran dengan apa yang masuk ke matanya.
Serius memandangi tingkah aneh itu, Pak Marmo terhenyak ketika si perempuan balik melihat ke arahnya.
Keberadaan Pak Marmo diketahui perempuan itu.
Sejurus kemudian, perempuan itu menghilang sekejap mata.
''Perempuan itu minta penglaris,'' ujar Pak Marmo kepada Sakat yang kelewat antusias mendengarkan.
''Kalau kamu mau, kamu juga bisa,'' lanjut Pak Marmo.
Mendengar perkataan itu, Sakat langsung kepikiran seleksi CPNS 2024 yang akan diikutinya.
Di benak Sakat, niatnya menjadi PNS di dinas yang mengurusi wisata dan pariwisata bakal terwujud.
Mimpi seorang pemuda di kaki Gunung Lawu yang tinggal tak jauh dari wisata Telaga Sarangan.
''Kalau minta jimat di balai desa itu, bisa atau tidak?'' tanya Sakat ke Pak Marmo yang hanya membalas dengan senyuman. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan