LEPAS dari aspalan di sekitar Telaga Sarangan, sebuah jalan makadam dilalui Kakek pencari kayu bakar itu saat sudah gelap.
Sumber cahaya di hutan Gunung Lawu baginya cuma satu.
Senter tua yang kerap mati.
Namun, nyala kembali setelah dipukul-pukulan ke telapak tangan.
''Astaga,'' ujar Kakek sesaat setelah mendengar suara erangan.
Senter diarahkan ke sebuah pohon. Sumber suara yang membuatnya terkejut dicari.
Langkah kaki Kakek terhenti.
Itu setelah cahaya senter tepat menyoroti sosok hitam, tinggi, dan besar.
Kakek mendongak memandangi sosok itu cukup lama.
''Saya ke sini tidak berniat seperti orang-orang. Saya cuma ingin mencari kayu bakar,'' ujar Kakek.
Sosok penunggu hutan yang hitam tinggi besar terus mengerang.
Kakek sempat tak percaya dengan kejadian nyata yang sedang dialami.
Sejurus kemudian, menolehkan kepalanya ke arah tujuan Kakek.
Kakek paham makna gestur tersebut.
Bahwa, dirinya disilakan mencari kayu bakar di hutan Gunung Lawu.
Kakek percaya, kalau penunggu hutan menolehkan kepala ke arah sebaliknya, itu pertanda buruk.
Lebih baik, niat masuk hutan diurungkan.
Ya, kejadian seperti itu beberapa kali dilami pria yang sejak muda bekerja sebagai pencari kayu bakar di hutan Gunung Lawu.
Namun demikian, malam itu dia tetap merinding dan lantas melanjutkan perjalanan. (*/bersambung).
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan