MERINDING yang dirasa Sadad dan Ratih tak kunjung hilang.
Suasana pacaran di wisata di kaki Gunung Lawu yang semula sarat bunga-bunga, kini menjadi mencekam.
Udara dingin Telaga Sarangan yang sebelumnya terasa sejuk, berganti dingin yang menusuk.
Kesepakatan mengenakan kaos couple warna hijau pupus jadi penyebab.
Sadad dan Ratih sengaja menjajal pantangan.
Alhasil, pasangan kakek dan nenek menghampirinya di tepi telaga.
Si nenek meminta agar kaos warna hijau pupus dilepas.
Sejoli yang dimabuk asmara itu merinding tak henti.
Buntut nenek dan kakek yang menghilang begitu saja usai mengutarakan permintaan itu.
Pasangan kakek dan nenek itu siapa?
Pertanyaan tersebut kini meletup-letup di benak Sadad.
Matahari semakin naik. Sadad dan Ratih beranjak dari tempat duduknya di tepi telaga.
Danau di kaki Gunung Lawu itu selesai dikelilingi satu putaran.
Sesaat sebelum keluar tempat wisata, keduanya dihentikan seorang pria.
Seorang pria itu langsung bertanya tentang apa yang disampaikan nenek.
Sadad dan Ratih terhenyak mendengar pertanyaan itu.
Sebab, cuma dirinya berdua yang mendengar permintaan nenek melepas kaos warna hijau pupus yang sedang dipakai.
''Sebelum kalian berdua pulang, turuti apa yang dikatakan nenek itu,'' tutur seorang pria itu.
Usut punya usut, seorang pria yang menyetop Sadad dan Ratih itu adalah sesepuh di lingkungan telaga.
''Pantangan yang sengaja kalian langgar, tidak akan berdampak kalau kata nenek itu kalian turuti,'' lanjutnya.
Sadad dan Ratih cuma bisa celingak-celinguk mendengar wejangan.
Sesepuh itu terus berkisah. Beragam pantangan dan cerita misteri tentang orang pacaran di tempat wisata di kaki Gunung Lawu itu dibeber.
Niat pulang sejoli dimabuk asmara itu dari tempat wisata Telaga Sarangan tertahan. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan