SEJUMLAH pekerja proyek jalan tembus Cemorosewu - Sarangan terkesiap.
Beberapa di antaranya melotot keheranan. Satu dua orang yang lain merinding.
Para buruh pembangunan infrastruktur di kawasan kaki Gunung Lawu itu kehabisan akal.
Buntut sebatang pohon yang tak bisa dirobohkan.
Berupa-rupa cara penebangan telah dicoba.
Mulai gergaji manual, gergaji mesin, sampai penggunaan alat berat.
Hasil yang didapat tak berbeda.
Pohon yang dipercaya warga setempat sebagai pohon keramat itu masih berdiri kokoh.
Batangnya yang besar, dua dekapan orang dewasa, tetap menjulang tinggi.
Ya, cerita misteri kali ini mengisahkan tentang sebatang pohon keramat di jalur wisata di kaki Gunung Lawu.
Letaknya di jalan tembus Cemorosewu - Sarangan.
Kalau dari arah Sarangan, posisinya sebelum Cemorosewu. Kiri jalan.
Setelah persimpangan antara jalur baru dengan jalur lama.
Kondisi pohon itu sekarang cuma tinggal batangnya.
Dahulu, kelewat lebat dedaunan yang membungkus dahan dan rantingnya.
Kendati demikian, segudang cerita horor bertebaran di telinga khalayak.
Cerita misteri pertama dialami seorang pekerja proyek. Sebut saja Kasnan.
Saat menggergaji secara manual, dia mengaku melihat cairan merah dari batang pohon itu.
Semula Kasnan tak berpikiran macam-macam.
Dia menganggap cairan serupa darah itu adalah getah.
Namun, lambat-laun kejanggalan mulai menyesaki kepala.
Rekan kerja yang lain tak melihat.
Cuma dua mata Kasnan yang menangkap kucuran cairan merah dari batang pohon tersebut.
Kasnan menyerah.
Dia takut nahas menimpanya dalam proyek jalan tembus Cemorosewu - Sarangan itu.
Kasnan tak ingin mendapat petaka di kaki Gunung Lawu. (*/bersambung)
*Penulis bekerja di Radar Madiun.
Editor : Deni Kurniawan