GERSANG menjadi hal wajar di desa kami sejak pagebluk melanda.
Monumen wisata di kaki Gunung Lawu, yang berdiri di lokasi sakral itu, akar permasalahannya.
Pagebluk berkepanjangan karena pesan sesepuh agar pembangunan dibatalkan tak diindahkan pemerintah.
Berupa-rupa kejadian terjadi di desa kami, Desa Cemaralangu.
Telinga pasti asing dengan nama tersebut.
Tapi percalah tuan dan nyonya sekalian, desa kami itu nyata adanya.
Pulau tengah telaga di kaki Gunung Lawu itu merupakan jejak peradaban kami.
Ya, telaga itu kini biasa disebut Telaga Sarangan.
Salah satu wisata pendulang jutaan pengunjung saban tahun.
Pulau tengah telaga itu sekarang wujudnya memang cuma pepohonan.
Dahulu, tempat itu merupakan makam sesepuh Desa Cemaralangu yang meninggal di awal pagebluk.
Kalau ada kesempatan, tuan dan nyonya sekalian disilakan melihat ke dalam pulau itu.
Caranya, tunggu saat puncak kemarau.
Ketika volume air telaga susut kelewat banyak.
Di momen tersebut, sebagian dasar danau akan muncul.
Serupa daratan penghubung antara tepi telaga dengan bibir pulau.
Mungkin, makam sesepuh Desa Cemaralangu sudah tak berbentuk lagi.
Bisa jadi, cuma tinggal bekas-bekas makamnya.
Yang pasti, ada peninggalan asli desa kami berupa sebilah keris pusaka.
Tertancap di samping makam sesepuh kami.
Namun, tak sembarang orang boleh masuk ke pulau tengah telaga di Sarangan.
Petugas tempat wisata tentu tidak mengizinkan.
Alasan keselamatan bakal disebut-disebut sebagai dalih larangan.
Serupa larangan pemerintah dahulu agar peradaban di Desa Cemaralangu hilang tanpa jejak sejarah.
Desa di bawah kaki Gunung Lawu yang sengaja dimusnahkan demi wisata. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan