DIPAN berdecit seiring Badis yang bangkit.
Dia berjalan ke halaman depan.
Bangku berbahan bambu ditujunya.
Sarung yang semula menyelempang di badan, digeser lalu dikalungkan beberapa kali ke leher.
Sebatang rokok murahan disulutnya.
Dingin yang dirasa sedikit berkurang.
Isapan demi isapan dilewati dengan keraguan.
Tekad mencoba pantangan wasiat dari sang bapak ternyata belum bulat.
Isapan terakhir diembuskan bersamaan bulatnya niat.
Badis pasang mata tepat ke arah Gunung Lawu.
Kebetulan, suasana lingkungan malam itu tak seperti biasanya.
Tak ada gelak tawa menertawai orang kalah main gaple yang dihukum dengan jepitan jemuran.
Teriakan reff Ku Tak Bisa komplet genjreng gitar murahan juga tak terdengar.
Hits dari Slank itu menjadi lagu wajib sejumlah pemuda sekitar yang doyan mabuk-mabukan.
Selama Badis menghabiskan sebatang rokok, dia juga tidak melihat warga melintas.
Beda dengan sebelum-sebelumnya, satu-dua petani pulang dari sawah.
Padahal, hari itu merupakan jatah hamparan sawah samping desa mendapat air irigasi giliran. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan